
JAKARTA – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Muhammad Qodari, merasa prihatin melihat Ketua Majelis Syuro Partai Ummat, Amien Rais, terpengaruh informasi tidak terverifikasi. Keprihatinan ini merespons unggahan video berdurasi delapan menit di akun YouTube pribadi Amien yang mengklaim Presiden, Prabowo Subianto, dan Sekretaris Kabinet, Letkol Teddy Indra Wijaya, memiliki hubungan melebihi batasan profesional.
Tudingan tersebut dinilai berasal dari konten media sosial yang manipulatif. Saat ini, video kontroversial itu telah lenyap dari saluran digital Amien.
"Kalau saya prihatin melihat video Amien Rais itu. Prihatinnya adalah Amien Rais sebagai tokoh, akademisi, sekaligus profesor doktor, telah menjadi korban hoaks," ujar Qodari di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).
Tuduhan terhadap Teddy mengemuka akibat interpretasi keliru terhadap video berisi lagu berjudul Aku Bukan Teddy. Lagu parodi ini disalahartikan sebagai fakta autentik.
"Dasar tudingan bahwa Sekretaris Kabinet, Teddy, adalah gay berasal dari sebuah akun berisi lagu berjudul Aku Bukan Teddy. Amien menganggap yang menyanyi adalah Titiek Soeharto," ungkapnya.
Video tersebut dipastikan tidak bisa menjadi rujukan karena penyanyi aslinya bukan Titiek, sementara visual yang ditampilkan sekadar kolase dari berbagai sumber. Konten asli itu bahkan sudah menyertakan keterangan sebagai materi hiburan.
"Ini contoh bahaya hoaks dan Artificial Intelligence di media sosial. Tokoh sesenior Amien bisa menjadi korban. Pernyataan Amien tentang Teddy murni didasari hoaks," tegasnya.
Merespons polemik ini, Amien angkat bicara di sela Musyawarah Nasional Partai Ummat di Yogyakarta, Sabtu (2/5/2026) malam. Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ini menyebut videonya merupakan bentuk kebebasan berpendapat.
"Demokrasi berjalan baik kalau kebebasan mengeluarkan pendapat yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar kita tidak dibatasi dan dibungkam," paparnya.
Terkait tudingannya, ia mengaku punya alasan yang dikumpulkan dari berbagai sumber digital.
"Memang saya kumpulkan dari berbagai informasi di YouTube dan saluran media sosial. Saya kira hampir meyakinkan bahwa ada something very unusual tentang Teddy," urainya.
Porsi kekuasaan Teddy saat ini dinilai terlalu dominan. Kondisi ini diklaim membuat akses menuju presiden tersendat.
"Saya melihat Teddy hanya nggulet (menempel) terus ke Prabowo. Sampai-sampai yang menentukan tamu, siapa menteri, atau jenderal yang bisa bertemu presiden adalah Teddy," tambahnya.
Agar tidak melahirkan stigma buruk, presiden disarankan menempatkan Sekretaris Kabinet pada posisi berbeda demi meminimalisasi potensi gangguan dalam pemerintahan. ***