PEKANBARU - Hujan yang mengguyur Kota Pekanbaru tanpa jeda selama tiga hari terakhir kembali merendam Jalan Bangau Sakti, Kecamatan Binawidya, Rabu (22/7/2026). Air yang menggenang menutupi badan jalan berlubang, memaksa pengendara sepeda motor mengurangi kecepatan dan memicu perlambatan arus lalu lintas menuju kawasan kampus Universitas Riau (Unri) pada jam-jam sibuk.

Persoalan genangan tersebut memunculkan pertanyaan publik terkait efektivitas pembangunan infrastruktur di kawasan itu. Pemerintah Kota Pekanbaru sebenarnya telah menjadikan Jalan Bangau Sakti sebagai prioritas perbaikan sejak 2024. Pekerjaan fisik diawali dengan pembangunan drainase sebagai fondasi sebelum badan jalan diperkeras dan diaspal.

Pada 2025, proyek infrastruktur berlanjut dengan pembangunan drainase sepanjang 1,1 kilometer dari simpang Jalan Kamboja menuju simpang Jalan Naga Sakti yang menyerap anggaran sekitar Rp2,6 miliar. Namun pada kenyataannya, genangan terus berulang setiap kali curah hujan tinggi.

"Dari kondisi di lapangan, terlihat bahwa persoalan di Jalan Bangau bukan hanya disebabkan oleh tingginya curah hujan, tetapi juga karena sistem drainase yang belum berfungsi optimal," urai Wakil Ketua Komisi IV DPRD Pekanbaru, Nurul Ikhsan.

GoRiau Sebuah mobil yang terpaksa men
Sebuah mobil yang terpaksa mengambil sisi lajur jalan lain akibat lubang di Jalan Bangau Sakti, Binawidya, Pekanbaru pada Rabu (22/7/2026). Kerap tergenangnya air akibat elevansi drainase yang lebih tinggi daripada jalan membuat aspal jalan tersebut cepat rusak. Padahal jalan tersebut baru diperbaiki beberapa tahun lalu. foto: afrila yobi/goriau

Ia menjelaskan, elevasi saluran air di kawasan tersebut posisinya lebih tinggi dibandingkan badan jalan, sehingga air hujan tidak dapat mengalir dan justru tertahan di permukaan jalan.

"Genangan yang terjadi secara terus-menerus juga mempercepat kerusakan aspal hingga menimbulkan lubang yang membahayakan pengguna jalan," tambahnya.

Kondisi drainase yang bermasalah tidak hanya terjadi di satu titik. Nurul juga menyoroti situasi di Jalan Arifin Ahmad, di mana genangan tetap muncul meskipun saluran air terlihat cukup besar. Hal itu mengindikasikan adanya hambatan aliran, sedimentasi, atau kapasitas saluran yang memerlukan evaluasi segera guna meminimalisasi potensi kecelakaan lalu lintas.

Di sisi lain, persoalan infrastruktur ini diperkirakan belum akan teratasi dalam waktu dekat. Berdasarkan prakiraan cuaca dari AQI.in, wilayah Pekanbaru masih berpotensi diguyur hujan hingga Minggu (26/7/2026). Jika sistem drainase tidak segera dibenahi, debit air yang terus bertambah dikhawatirkan akan memperparah kerusakan aspal.

Sebagai jalan akses utama, kondisi Jalan Bangau Sakti menjadi keluhan harian bagi ribuan mahasiswa, dosen, serta warga sekitar. Genangan air kerap menyamarkan lubang-lubang besar di jalan yang sering membahayakan keselamatan para pelintas.

"Kalau hujan turun kami pasti mengurangi kecepatan karena tidak tahu mana genangan biasa dan mana yang ternyata lubang. Beberapa teman saya pernah hampir terjatuh karena mengira jalannya rata," keluh mahasiswa Fakultas Teknik Unri, Rizky Pratama.

Senada dengan Rizky, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unri, Nadia Putri mendesak adanya evaluasi teknis dari pemerintah daerah. Ia menilai anggaran besar yang telah dialokasikan selama dua tahun terakhir seharusnya mampu memberikan solusi permanen, bukan sekadar proyek fisik yang gagal mengatasi sumber masalah.

"Kami melihat sudah ada pembangunan drainase, tetapi ketika hujan deras jalan tetap tergenang. Berarti ada yang perlu dievaluasi, baik desain maupun pelaksanaannya. Kalau kondisi ini dibiarkan, bukan hanya kendaraan yang rusak, keselamatan pengguna jalan juga terancam," tegasnya.

Merespons keluhan tersebut, Nurul Ikhsan kembali mengingatkan Pemerintah Kota Pekanbaru melalui dinas terkait agar segera melakukan evaluasi menyeluruh. Pembenahan komprehensif, mulai dari normalisasi saluran hingga perbaikan elevasi, mutlak diperlukan agar penanganan genangan tidak sebatas tambal sulam yang bersifat sementara.

"Kami juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan saluran drainase dengan tidak membuang sampah sembarangan, karena penanganan banjir dan kerusakan jalan merupakan tanggung jawab bersama," pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas PUPR Kota Pekanbaru, Edward Riansyah belum memberikan keterangan resmi maupun merespons pesan saat dikonfirmasi mengenai evaluasi proyek drainase di ruas jalan tersebut. ***