TELUKKUANTAN – Ikutnya atlet dayung dalam pacu jalur menuai polemik di tengah-tengah masyarakat. Polemik ini muncul ketika Cakaran Garuda Muda keluar sebagai juara open turnamen pacu jalur Gunungtoar 2023. Jalur KONI Riau ini diisi sebagian besar oleh atlet dayung Riau.

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Budpar) Kuantan Singingi (Kuansing) Azhar angkat bicara terkait polemik ini. Menurutnya, pacu jalur masuk dalam kalender pariwisata nasional yang sekarang disebut Kharisma Event Nusantara (KEN) 2023.

"Kenapa bisa masuk? Karena pacu jalur sarat dengan nilai-nilai tradisi budaya lokalnya, bukan kepada olahraganya," ujar Azhar melalui akun media sosialnya.

Pacu jalur tradional adalah pacu jalur yang diikuti jalur perwakilan desa dengan anak pacu berasal dari desa tersebut atau desa tetangga apabila kekurangan anak pacu.

Menurut Azhar, ikutnya KONI dalam pacu jalur tardisional, bukan persoalan menang atau kalah, tapi lebih kepada menjaga tradisionalnya.

"Kalau sudah mengedepankan olahraganya, maka dimungkinkan pacu jalur ini kembali akan dicoret dari daftar iven nasional oleh Kementerian Pariwisata," kata Azhar.

Untuk organisasi, lanjut Azhar, termasuk KONI dengan anak pacunya murni atlet profesional tetap diberi ruang untuk berpacu, yakni pacu jalur eksebisi, bukan pacu jalur tradisional.

Lantas, bagaimana nasib jalur Cakaran Garuda Muda pada festival pacu jalur di Tepian Narosa?

"Besok ada rapat panitia pacu jalur, ini termasuk yang akan saya sampaikan. Sehingga nanti keputusannya bukanlah keputusan Kadis Budpar saja, melainkan keputusan bersama yang tentu dipertimbangkan dari berbagai aspek," jawab Azhar.***