PEKANBARU – Pemuda Melayu Riau Indonesia (PMRI) mendorong gerakan green society atau masyarakat hijau di Provinsi Riau. Organisasi tersebut berencana meluncurkan program yang menyasar anak muda Melayu sebagai bagian dari upaya membangun kepedulian terhadap lingkungan dan mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ketua Umum PMRI Khoirul Basar mengatakan gerakan green society perlu dimulai dari perubahan perilaku masyarakat. Menurut dia, kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya diserahkan kepada pemerintah, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama.

“Ini merupakan bagian dari tugas kita bersama untuk terus tumbuh, berkembang dan saling menjaga antara sesama makhluk. Kita harus peduli terhadap lingkungan dan mengubah pola hidup bersama yang bisa dimulai dari diri kita sendiri,” kata Basar kepada Goriau, Senin, 24 Agustus 2026.

Basar mengatakan PMRI segera meluncurkan dan menjalankan program green society bagi anak-anak muda Melayu di Riau. Program tersebut akan diarahkan untuk membangun kesadaran generasi muda mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan alam.

Menurut dia, persoalan lingkungan menjadi semakin penting di tengah perubahan cuaca dan iklim serta memasuki musim kemarau. Sosialisasi, diskusi dan kampanye mengenai green society dinilai perlu diperluas agar kesadaran masyarakat tumbuh dan berkembang menjadi gerakan bersama.

“Di tengah pengaruh perubahan cuaca dan iklim yang kini berada pada posisi musim kemarau, upaya sosialisasi, diskusi dan kampanye green society perlu digalakkan di tengah masyarakat. Kesadaran itu harus timbul dan menjadi tanggung jawab kita bersama agar masalah karhutla di Provinsi Riau segera teratasi dengan baik,” ujarnya.

Kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru dan sejumlah wilayah Riau pada Senin menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan belum selesai. Menurut Khoirul, kondisi tersebut seharusnya mendorong masyarakat untuk lebih serius menjaga lingkungan.

“Provinsi Riau dan Kota Pekanbaru khususnya hari ini diselimuti kabut asap. Ini menjadi pengingat bagi kita untuk terus menjaga lingkungan dan alam di sekitar kita,” katanya.

Ia menilai dampak kabut asap tidak hanya dirasakan oleh mereka yang berada di lokasi kebakaran. Anak-anak, lansia, ibu hamil dan masyarakat secara umum ikut menghadapi risiko ketika kualitas udara memburuk.

Karena itu, Khoirul meminta tidak ada pihak yang melakukan aktivitas yang dapat memperburuk kondisi lingkungan. Ia juga mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap pencegahan karhutla dari lingkungan masing-masing.

PMRI, kata dia, juga mendorong Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pemuda, mahasiswa dan masyarakat bersama seluruh pemangku kepentingan untuk terus memantau perkembangan karhutla.

“Kami mengajak Forkopimda, pemuda, mahasiswa dan masyarakat bersama seluruh stakeholder terkait untuk terus memantau, melakukan evaluasi dan monitoring setiap perkembangan yang ada di berbagai platform media,” ujarnya.

Selain itu, PMRI menyampaikan apresiasi kepada para relawan dan personel yang terlibat dalam pemadaman kebakaran di sejumlah titik di Riau. Khoirul mengajak masyarakat memberikan dukungan moral kepada mereka yang berada di lapangan.

“Kita juga memberikan motivasi dan mendoakan seluruh relawan yang ikut dalam tim pemadaman api di titik-titik tertentu yang ada di Provinsi Riau,” kata dia.

Khoirul berharap gerakan green society tidak berhenti sebagai slogan. Menurut dia, gerakan tersebut harus diterjemahkan menjadi perubahan kebiasaan masyarakat, terutama generasi muda, dalam memperlakukan lingkungan.

“Kami dari PMRI mengajak masyarakat agar kita semua terus bersama-sama menjaga persatuan dan membangun kolaborasi yang baik dalam mengubah pola hidup masyarakat menjadi lebih baik untuk mendukung green society,” ujarnya.

PMRI menilai keterlibatan anak muda penting dalam gerakan tersebut. Mereka tidak hanya menjadi sasaran sosialisasi, tetapi diharapkan menjadi penggerak perubahan perilaku lingkungan di tengah masyarakat Riau.

Gerakan itu pada akhirnya diharapkan dapat memperkuat kesadaran kolektif untuk menjaga hutan, lahan dan lingkungan sekaligus mendorong pencegahan karhutla sebelum bencana kembali meluas. JAKARTA –