PEKANBARU - Perpustakaan berbasis inklusi sosial di Provinsi Riau, terus berkembang dalam mendorong masyarakat untuk berinovasi menciptakan produk-produk berdaya jual, untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Perpustakaan yang sebelumnya, hanya menjadi tempat membaca, kini memiliki berbagai fungsi sebagai sarana.

"Program ini mengedepankan bagaimana perpustakaan dapat berfungsi sebagai tempat mencari informasi, berdiskusi, berbagi pengalaman dan menciptakan keterampilan," jelas Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca Perpusnas RI Deni Kurniadi, Rabu, (27/11/2019).

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Riau Rahima Erna mengatakan, perpustakaan kini menjadi motor penggerak center (pusat, red) yang bertransformasi untuk kesejahteraan. Dimana, melalui buku bacaan, masyarakat mendapatkan pengetahuan praktis untuk berinovasi membuat produk bernilai.

"Seperti ketika dia melihat limbah daun sawit, lidinya bisa dibuat berbagai macam produk, seperti anyaman. Nanti ini bisa dijual dan menghasilkan," terangnya.

Menurutnya, perpustakaan ini sudah membantu di 17 desa dalam tiga kabupaten di Provinsi Riau. Beberapa produk yang sudah terbentuk melalui bantuan inklusi sosial ini diantaranya pembuatan anyaman, dan akan berinovasi pembuatan songket dan tanjak dari kulit nanas di Kabupaten Kampar.

"Untuk inklusi perpustakaan ini sudah ada di 17 desa, dan cita-cita kita ditahun 2020 perpustakaan ini sudah bisa menjangkau desa-desa lain di Riau," paparnya.***