SELATPANJANG, GORIAU.COM - Perayaan Imlek ternyata bukan hanya milik agama tertentu saja, tetapi merupakan tradisi dari kebudayaan masyarakat Tionghoa. Dengan begitu Pemkab Meranti diharapkan bisa memasukkan perayaan ini dalam kalender wisata daerah.

Demikian disampaikan Darwin Susandy, salah seorang tokoh muda masyarakat Tionghoa, Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, Selasa (28/1/2014), ketika ditemui di Selatpanjang. Menurutnya, perayaan Imlek harus bisa dijadikan sarana penyatuan antar umat beragama.

"Imlek memang tradisi warga Tionghoa, namun bukan milik salah satu agama. Ini adalah warisan yang harus menjadi aset kekayaan budaya bagi pemerintah daerah," katanya.

Imlek di Selatpanjang, tambahnya lagi, diarayakan sangat meriah. Sehingga banyak turis asing dari manca negara yang datang. "Bukan hanya saudara kita sesama tionghoa yang datang, tapi turis lain juga sengaja ke sini (Selatpanjang, red). Ini menjadi semacam ikon wisata Meranti," ujar Darwin.

Untuk perayaan imlek tahun 2565 atau tahun 2014 ini, Darwin mengharapkan bisa berlangsung sukses seperti tahun-tahun sebelumnya. "Kami mengharapkan semua pihak bisa mendukung sehingga pelaksanaan imlek menyambut tahun kuda nanti bisa sukses," harapnya.***