JAKARTA - Hubungan perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada memburuk usai perundingan dagang kedua negara berakhir tanpa kesepakatan pada Jumat (21/8/2026). Kegagalan tersebut memicu aksi saling balas pengenaan tarif barang yang berujung pada saling lempar kritik antara pemimpin negara.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menuding negara tetangganya tersebut hanya menginginkan keuntungan ekonomi dari negaranya. Hal ini ia sampaikan melalui platform media sosial Truth Social pada Minggu (23/8/2026).

"Mereka juga selama bertahun-tahun mengenakan tarif dalam jumlah besar kepada para petani hebat kami. Tidak lagi!" tulisnya.

Pernyataan tersebut merespons langkah Kanada yang sehari sebelumnya menyatakan akan mengenakan tarif balasan terhadap produk-produk Amerika Serikat mulai 8 September. Kebijakan ini diambil setelah Washington secara sepihak memberlakukan tarif sebesar 50 persen terhadap berbagai komoditas Kanada.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney langsung merespons tekanan tersebut dengan menyatakan komitmennya untuk melindungi sektor domestik secara proporsional.

"Kanada akan menyamai tarif baru Washington dolar demi dolar untuk melindungi pekerja, petani, keluarga, dan dunia usaha Kanada," tegasnya.

Sikap Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump menandai perubahan besar dalam hubungan persahabatan tradisional kedua negara. Trump sebelumnya sering menyatakan keinginannya menerapkan tarif agar perusahaan memindahkan produksinya kembali ke Amerika Serikat, bahkan sempat melontarkan wacana menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51.

"Amerika telah berubah. Kita tidak akan kembali ke hubungan yang dulu," tutup Perdana Menteri Kanada Mark Carney.***