DURI - Meraih beasiswa UNESCO PBB merupakan salah satu perjuangan berat buat Carissa Ardiningrum. Berawal dari keinginan besarnya belajar ke luar negeri, membuat gadis jelita ini sibuk mencari informasi melalui internet, teman sekolah hingga seniornya di SMAS Cendana Duri.

"Ketika saya putuskan ingin kuliah diluar negeri, dan menyampaikan keinginan ini kepada ayah dan ibu. Mereka sangat mendukung sekali, namun mereka mengingatkan kepada saya bahwa belajar di luar negeri itu tidak gampang dan sangat besar biaya nya. Meski demikian ayah dan ibu tidak sedikitpun membuat saya surut, mereka ingin saya menggapai cita-cita saya," kata Carissa saat bercerita asal mula ia bisa mendapatkan beasiswa tersebut kepada GoRiau.com, Minggu (20/3/2016).

"Saya mulai mencari tau informasi tentang bagaimana bisa kuliah di luar negeri tanpa memberatkan ayah ibu untuk biaya pendidikan dan hidup disana. Alhamdulillah, ada teman yang juga alumni SMAS Cendana Duri memberikan informasi jalur beasiswa UNESCO PBB melalui suatu lembaga namanya Sun Education di Pekanbaru, Riau. Saya coba telusuri dan ikuti pra tes nya," beber Carissa lagi.

Menurut Carissa, usai mengikuti pra tes di Sun Education itu, dirinya harus lebih banyak lagi belajar agar bisa meraih nilai terbaik saat tes murni dipenghujung tahun 2015.

"Saya juga ikut bimbingan di Sun Education, dengan 8 kali pertemuan. Hasilnya tes IELTS saya tertinggi yaitu 7,5. Bimbingan itu saya mulai Agustus 2015 untuk tes IELTS," papar Carissa yang akan kuliah di Louisiana State University jurusan Tekhnik Pangan.

Sun Education ini, lanjut Carissa, melakukan seleksi atau penjaringan yang ketat kepada setiap anak yang ingin mengikuti tes untuk belajar keluar negeri. Sebelum masuk, masing-masing anak ditanyai tujuannya apa belajar diluar negeri.

"Jadi anak-anak yang bisa mengikuti tes itu hanya yang memang ingin belajar. Sehingga wajib bagi anak yang lulus pada seleksi untuk menjalankan program dari lembaga itu seperti hal nya, anak harus mandiri," jelas Carissa.

Banyak syarat yang harus dilalui, kata Carissa, pertama syarat nilai raport rata-arat 8,0 dari semester 1 sampai 5 dan nilai itu tidak boleh naik turun grafiknya. Yang mendapatkan beasiswa ini harus kuliah di Amerika Serikat (AS) karena UNESCO PBB merekomendasikan 20 perguruan tinggi.

Selanjutnya, harus aktif di organisasi apapun dan memiliki beberapa penghargaan serta sertifikat. Syarat lainnya, Carissa harus membuat karangan esay minimal 300 kata dalam bahasa Inggris. Kemudian, setelah kuliah setahun akan mendapatkan ijazah dari UNESCO dan bisa bekerja di setiap cabang UNESCO yang ada.

"Semua syarat itu saya upayakan sendiri mengurusnya. Seperti meminta rekomendasi dari sekolah dan membuat karangan esay minimal 300 kata dalam bahasa Inggris. Karangan esay itu saya bikin sendiri tanpa minta bantuan ibu atau ayah. Bahkan nanti di Amerika, saya juga harus tinggal di asrama kampus dan berangkat ke negeri orang tanpa diantarkan oleh orangtua, karena aturannya begitu," kata Carissa.

Saat ditanyakan apa alasannya ingin belajar di luar negeri, Carissa menjawab, melihat pendidikan di luar negeri yang sangat maju. "Sehingga saya termotivasi untuk bisa kuliah disana dan nanti pulang ke Indonesia membawa ilmu yang saya dapat disana dan saya terapkan di Indonesia. Saya akan kembali untuk Indonesia," ungkap Carissa.

Dan kenapa Carissa memilih jurusan tekhnik pangan itu, karena ia ingin masakan Indonesia bisa di nikmati di negara mana saja.

"Saya suka sate Padang. Mungkin di Amerika sana tidak ada sate Padang. Saat saya kuliah nanti saya akan buat suatu penemuan baru mengenai pengolahan makanan. Saya mau sate Padang dari Indonesia itu bisa nikmati di negara mana pun," tutup Carissa yang memiliki keinginan tahun depan akan ada lagi orang Duri yang mendapatkan beasiswa UNESCO PBB ini.***