PEKANBARU – Penggemar PSPS Pekanbaru yang juga Anggota DPRD Kota Pekanbaru, Zulkardi, mendesak federasi dan otoritas kompetisi untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan wasit dalam pertandingan PSPS Pekanbaru melawan Adhyaksa FC Banten di Stadion Kaharuddin Nasution, Rumbai, Jumat (23/1/2026) malam, yang berakhir imbang 1-1.

Zulkardi menilai, sejumlah keputusan wasit dalam laga tersebut menunjukkan kejanggalan dan berpotensi merugikan PSPS Pekanbaru sebagai tuan rumah. Ia menyebut, keputusan-keputusan krusial itu berdampak langsung terhadap hasil pertandingan.

“Saya menonton langsung pertandingan itu bersama ribuan suporter PSPS. Yang kami lihat bukan sekadar kesalahan kecil, tapi rangkaian keputusan yang patut dievaluasi secara serius,” kata Zulkardi saat dihubungi, Sabtu (24/1/2026) malam.

Menurut Zulkardi, momen paling mencolok terjadi pada menit ke-35 babak pertama ketika PSPS hampir mendapatkan penalti. Saat itu, wasit tengah telah menunjuk titik putih setelah Viery Donny Ariyanto terjatuh di kotak penalti.

Namun, setelah wasit VAR memanggil wasit utama untuk melakukan pengecekan ulang, keputusan tersebut justru dibatalkan. Viery Donny malah diganjar kartu kuning karena dinilai melakukan diving.

“Kalau wasit tengah sudah menunjuk penalti, itu artinya dia melihat ada pelanggaran. Tapi setelah VAR, keputusannya berubah total. Bahkan pemain PSPS justru dianggap diving. Ini yang membuat kami mempertanyakan fungsi VAR itu sendiri,” ujar Zulkardi.

Ia menilai, penggunaan VAR dalam situasi tersebut terkesan tidak memberikan kejelasan, melainkan justru menimbulkan kontroversi baru.

Kejanggalan, kata Zulkardi, kembali terjadi menjelang akhir babak pertama ketika Adhyaksa FC mendapatkan hadiah penalti yang menjadi satu-satunya gol tim tamu. Penalti itu diberikan setelah adanya pengecekan VAR terhadap insiden yang sebelumnya dinilai sebagai situasi biasa.

“Pada kejadian itu, awalnya bukan pelanggaran. Tapi setelah ada intervensi, tiba-tiba berubah menjadi penalti untuk Adhyaksa. Ini yang membuat publik merasa ada standar ganda dalam pengambilan keputusan,” ucapnya.

Terlebih saat dianulirnya gol oleh striker PSPS Pekanbaru, Antonio. Saat menerima bola lambung, Antonio berhasul melakukan kontrol dengan dada lalu melepas tendangan dan berhasil masuk. Saat itu Wasit lapangan mengsahkan gol namun terjadi penganuliran srtelah dilakukan cek var.

"Terus terlihat di replay wasit utama sudah katakan dada bukan tangan terus setelah masuk ke lapangan mau tiup peluit malah seperti wasit di intervensi var jadi tidak dengan pendirian nya wasit malah membatalkan goal," jelasnya.

Selain momen tersebut, Zulkardi juga menyoroti inkonsistensi wasit dalam menghentikan pertandingan ketika terdapat dua bola di lapangan. Ia menyebut, laga dihentikan saat PSPS menguasai bola, namun dibiarkan berlanjut ketika situasi serupa terjadi saat Adhyaksa FC menguasai bola.

“Kejadian itu terjadi tidak jauh dari posisi wasit utama dan ofisial keempat. Tapi perlakuannya berbeda. Hal-hal seperti ini yang membuat kepercayaan publik terhadap perangkat pertandingan menjadi turun,” kata Zulkardi.

Sebagai pencinta sepak bola Pekanbaru, Zulkardi menegaskan bahwa kritik tersebut bukan ditujukan untuk mencari kambing hitam, melainkan sebagai bentuk dorongan agar kualitas kompetisi dijaga.

“Sepak bola harus adil. Wasit adalah penjaga keadilan di lapangan. Kalau keputusannya terus menuai kontroversi, federasi wajib turun tangan dan melakukan evaluasi. Jangan sampai PSPS atau tim mana pun menjadi korban,” ujarnya.

Ia berharap, federasi dan operator liga segera mengambil langkah konkret, termasuk melakukan penilaian ulang terhadap kinerja wasit dan penggunaan VAR, agar kejadian serupa tidak terulang di pertandingan berikutnya.

Hasil imbang tersebut membuat PSPS Pekanbaru masih tertahan di peringkat kedelapan klasemen sementara dengan koleksi 21 poin. Sementara Adhyaksa FC tetap berada di posisi kedua dengan raihan 30 poin dari 17 pertandingan. ***