
PEKANBARU – Pemerintah Kota Pekanbaru mengklaim telah menemukan formula distribusi untuk mengatasi kelangkaan dan lonjakan harga minyak goreng subsidi Minyakita yang terjadi hampir sebulan terakhir di sejumlah pasar tradisional.
Penjabat Sekretaris Daerah Kota Pekanbaru, Ingot Ahmad Hutasuhut, mengatakan pemerintah kota bersama Satgas Pangan dan distributor telah menyepakati pola distribusi baru agar penyaluran Minyakita lebih terkontrol hingga ke tingkat pasar.
“Formulasinya sudah kita sepakati. Selain melalui jalur distribusi konvensional, nanti juga ada alokasi khusus per pasar,” kata Ingot, Selasa (12/5/2026).
Menurut dia, langkah tersebut diambil setelah pemerintah menemukan indikasi distribusi Minyakita tidak sepenuhnya sampai langsung ke pedagang atau konsumen, melainkan kembali berpindah ke jalur pengecer lain.
“Yang seharusnya sudah dijual ke pengguna, ternyata ke retail lagi, ke pengecer lagi. Ini yang sudah kita ingatkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ke depan setiap pasar akan mendapat alokasi distribusi yang lebih jelas dan terukur, misalnya 10 ton hingga 20 ton per pasar, agar pasokan lebih mudah diawasi.
“Nanti per pasar itu alokasinya jelas. Jadi kalaupun ada yang mau menimbun, tidak ada gunanya karena ada dropping khusus juga,” kata Ingot.
Pemerintah kota, lanjut dia, berharap pola distribusi tersebut dapat segera menekan kelangkaan dan menstabilkan harga Minyakita di pasaran.
“Semoga ini bisa efektif,” ujarnya.
Sebelumnya, harga Minyakita di sejumlah pasar tradisional Pekanbaru dilaporkan menembus Rp18 ribu hingga Rp22 ribu per liter, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.
Kelangkaan tersebut telah berlangsung hampir satu bulan dan memicu kritik dari DPRD Pekanbaru terhadap lambannya penanganan pemerintah kota.
Selain membahas Minyakita, Ingot juga menyinggung kondisi harga sejumlah komoditas pangan lain yang mulai mengalami kenaikan akibat tingginya biaya distribusi dan faktor cuaca.
Menurut dia, kenaikan harga BBM dan ongkos distribusi turut memengaruhi harga bahan pokok seperti cabai dan bawang merah.
“Curah hujan yang cukup tinggi juga mempengaruhi hasil panen sehingga suplai agak terganggu,” katanya.
Meski demikian, ia menilai kondisi pasokan pangan secara umum masih relatif stabil dan mulai menunjukkan perbaikan seiring membaiknya hasil panen di sejumlah daerah pemasok.
Terkait kemungkinan operasi pasar, Ingot mengatakan pemerintah kota masih melihat perkembangan situasi di lapangan. Namun apabila kelangkaan terus berlangsung, Pemko Pekanbaru siap mengambil langkah intervensi.
“Kalau memang berlangsung terus, tentu kenyamanan warga nomor satu. Kalau harus operasi pasar, kita operasi pasar,” katanya. ***