
BANDA ACEH –Pascabencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, persoalan kesehatan korban mulai mencuat dan menjadi perhatian serius. Di Palembayan, dilaporkan banyak korban mengalami infeksi pada luka, mulai dari luka kotor hingga bernanah.
Ketua Relawan Kampus Abdurrab Riau sekaligus dosen keperawatan Universitas Abdurrab, Ns Roni Saputra, SKep MKes, menjelaskan kondisi tersebut bukan semata akibat tindakan medis yang tidak steril. Menurutnya, ada sejumlah faktor yang saling berkaitan dan memperburuk proses penyembuhan luka.
“Kurangnya asupan protein sangat memengaruhi proses penyembuhan luka. Ditambah kondisi lingkungan pengungsian yang kotor serta keterbatasan air bersih, risiko infeksi menjadi semakin tinggi,” ujar Roni kepada GoRiau.com, Kamis (15/1/2026).
Ia menyebut faktor lain yang turut berpengaruh adalah kondisi psikologis korban yang belum stabil setelah bencana. Karena itu, penanganan kesehatan harus dilakukan secara cepat, menyeluruh, dan terkoordinasi.
Menurut Roni, perawatan luka perlu dilakukan secara rutin dengan mendatangi langsung posko-posko pengungsian. Selain itu, korban bencana harus mendapat asupan makanan bergizi, terutama protein seperti telur. Ia juga mendorong tenaga kesehatan agar aktif bergerak dan berkoordinasi dengan puskesmas terdekat.
“Pihak puskesmas juga diharapkan terbuka dan legowo menerima masukan dari para relawan demi kepentingan korban,” tegasnya.
Roni turut berbagi pengalamannya saat menjadi relawan di Batang Toru, Garoga, dan Tapanuli Tengah pada 22 Desember 2025. Ia melihat banyak anak-anak bermain di sisa lumpur dan genangan air tanpa perlindungan, seperti masker.
“Kondisi ini sangat berisiko bagi kesehatan anak, mulai dari gangguan pencernaan seperti diare hingga infeksi saluran pernapasan,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya perhatian khusus terhadap anak-anak. Orang tua diminta membiasakan anak memakai masker, mencuci tangan sebelum makan dan tidur, serta meningkatkan asupan nutrisi seperti susu dan makanan bergizi. Konsumsi makanan cepat saji juga disarankan untuk dikurangi.
Menurut Roni, dua persoalan utama pascabanjir bandang yang sulit dihindari adalah lumpur sisa banjir dan debu yang beterbangan saat cuaca panas. Kondisi ini sangat memengaruhi daya tahan tubuh anak-anak yang secara alami lebih rentan dibandingkan orang dewasa.
Saat bertugas sebagai Ketua Relawan di Aceh Kamis (15/1/2026), Roni juga menemukan persoalan kesehatan yang kompleks, terutama terkait ketersediaan air bersih dan sanitasi. Banyak sumber air bawah tanah rusak atau hilang akibat banjir bandang, sehingga memicu berbagai penyakit, baik pada korban maupun relawan.
“Ada relawan yang mengalami diare, bahkan terkena kutu air. Strategi paling efektif adalah memastikan ketersediaan air bersih,” ujarnya.
Ia menyarankan langkah-langkah darurat seperti pembangunan sumur bor di sekitar posko pengungsian, distribusi air bersih menggunakan mobil tangki, serta percepatan pengaktifan kembali layanan PDAM setempat. Menurutnya, air bersih merupakan kebutuhan paling mendasar untuk mandi, minum, dan menjaga kebersihan lingkungan.
Roni mengajak seluruh pihak untuk saling bahu-membahu tanpa saling menyalahkan. Ia menegaskan bahwa pascabencana masih ada pekerjaan panjang yang harus dilakukan bersama, mulai dari pemulihan fasilitas umum seperti masjid, sekolah, dan layanan kesehatan, hingga pemulihan psikologis para korban.
“Gangguan psikologis biasanya datang belakangan. Karena itu, proses pemulihan harus dilakukan secara menyeluruh,” pungkasnya. ***