
PEKANBARU - Setelah berhasil menjadikan Syamsuar dan Edy Natar Nasution sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Riau, Nasdem kembali menorehkan prestasi di Pilkada Serentak Riau, dimana Nasdem diprediksi akan menjadi partai dengan kemenangan terbanyak, yakni 6 dari 9 Pilkada.
Dari segi umur, kata Willy, Partai Nasdem dinilai masih sangat muda jika dibandingkan dengan partai-partai lain saat ini, namun nyatanya Nasdem kerap menjadi pemenang di setiap kali gelaran Pilkada. Bahkan, empat tahun belakangan sebelum Pilkada Serentak 2020, Nasdem selalu menang.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nasdem Riau, Willy Aditya pernah membuka 'resep' partainya bisa memenangkan banyak Pilkada, salah satunya di Riau. Kepada GoRiau.com, Willy menyebut ada empat faktor yang menjadi alasan kemenangan Nasdem.
Dijelaskan Willy, Nasdem adalah partai yang pertama mempopulerkan metode lembaga survey. Bahkan, di Pilkada pertama Nasdem, yakni tahun 2015, Nasdem menjalin kerjasama dengan 4 lembaga survey dan dibiayai penuh oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partai
Di Pilkada kala itu, lanjut Willy, Nasdem menjadi pemenang pertama dan pemenang kedua adalah PAN. Karena, pada waktu itu PAN disebut Willy 'mengekor' pada Nasdem.
Strategi kemenangan itu terus dikembangkan pada Pilkada 2016, 2017, dan 2018 hingga akhirnya tahun 2019 Nasdem bisa menjadi penguasa parlemen keempat setelah PDIP, Golkar, dan Gerindra.
Pada Pilkada 2020 ini, Nasdem kembali menjalin kerjasama dengan 8 lembaga survey, namun pembiayaan jasa survey kali ini dibebankan kepada para calon.
"Artinya, kita memakai pendekatan scientific, walaupun kita punya kader tapi kalau potensi menang tidak ada, ya forget it," tegas Korwil Pemenangan Sumatera 2 ini, Sabtu malam (17/10/2020).
Alasan kedua adalah, Nasdem sampai hari ini masih konsisten menerapkan prinsip politik tanpa mahar. Willy menjamin, setiap calon yang maju lewat Nasdem tidak dikenakan mahar apapun.
Sebab, Nasdem memahami bahwa mahar adalah beban yang paling memberatkan para calon, sehingga Nasdem membebaskan para calon dari mahar. Hal ini yang membuat Nasdem menjadi 'idol' di Pilkada.
Yang ketiga, Nasdem juga memakai strategi 'play to win'. Willy yang merupakan politisi berdarah Minangkabau ini menjelaskan dengan pepatah Minangkabau.
"Kalau kata pepatah, condong salero ka nan lamak, condong mato ka nan rancak, condong posisi ka nan manang. Udah gitu aja," sambung salah seorang Ketua DPP Nasdem ini.
Terakhir, Nasdem juga mamakai strategi talent scouting. Willy mencontohkan kemenangan Ridwan Kamil di Pilkada Jawa Barat. Dimana, Nasdem menjadi partai yang pertama memberi dukungan. Setelah itu, Nasdem menggalang kekuatan dari partai-partai lain.
Artinya, setiap kandidat yang punya potensi menang besar, Nasdem akan memanggil dan memberikan support habis-habisan.
Dengan modal empat faktor ini, Willy pernah mencoba mengajak beberapa partai di Riau untuk membangun political block, namun ternyata partai-partai lain memiliki variabel yang berbeda dengan Nasdem.
"Saya sudah coba komunikasi dengan Golkar, buat political blok, ternyata variabel yang dibuat Golkar berbeda. Begitu juga PKS. Preferensi kita beda. Golkar dan PKS itu pakai kader proximity. Kalau Nasdem, kami tidak peduli mana kucing hitam, kucing merah, dan kucing biru. Yang penting bagi kita, kucing itu bisa nangkap tikus," tuturnya.
Sebagai partai baru, Willy mengaku, partainya tidak se-established partai lain yang sudah memiliki kader yang kuat dan banyak. Dalam Pileg, Willy menganalogikan Nasdem layaknya Manchester City dan Real Madrid.
"Kalau pemilihan Caleg, kita ada program 'Nasdem Memanggil'. Nasdem ini seperti Manchester City dan Real Madrid. Kita tidak bisa seperti PDIP yang mirip Barcelona punya La Masia. Starting-nya berbeda, jadi kita harus adaptif," terangnya.
Lebih jauh, terkait Pilkada Serentak di Riau, Nasdem mempersilahkan para kandidat yang sudah diusungnya untuk membuktikan komitmennya, dimana mereka berjanji akan berjuang penuh untuk bisa memenangkan Pilkada.
Karena kata Willy, domain partai pada Pilkada sebenarnya adalah domain kandidasi. Artinya, setelah partai memberikan dukungan, para kandidat harus berjuang bersama para relawan.
"Calon itu lebih pro relawan, benar kalau kader itu mesin partai, tapi relawan lebih lentur ketimbang struktur partai. Suka tidak suka, kandidat harus mengadopsi itu. Di perpolitikan Amerika yang cuma dua partai bahkan lebih parah, pakar politik disana bilang kalau partai hanya tukang jual tiket Pilkada," kata Willy.
Diberitakan sebelumnya, Partai Nasdem mengklaim partainya menang banyak di Pilkada Serentak Riau. Pasalnya di 9 Pilkada, 8 Pasangan yang diusung Nasdem, 6 diantaranya diyakini akan menjadi pemenang.
Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu Nasdem Riau, Dedi Harianto Lubis mengatakan, kemenangan tersebut terungkap berdasarkan penghitungan suara data C1 dari saksi, yang dikumpulkan oleh tim pemenangan pasangan calon.
Masing - masing DPD Nasdem di seluruh kabupaten/kota yang melaksanakan Pilkada, ujar Dedi, terlibat langsung dalam proses penghitungan di posko tim pemenangan kabupaten/kota.
"Hingga 10 Desember 2020 malam pukul 00.30 WIB, 6 Pasangan Calon yang diusung Partai NasDem bersama partai koalisi lainnya berhasil menang," kata Dedi kepada GoRiau.com, kamis pagi (10/12/2020).
6 daerah tersebut adalah Bengkalis, Siak, Dumai, Indragiri Hulu, Rohil dan Rohul.
Di Bengkalis, pasangan Kasmarni - Bagus Santoso menang dengan raihan suara 91.217 suara, di Siak pasangan Alfedri - Husni Merza meraih 101.142 Suara, dan di Dumai pasangan Paisal - Amris berhasil meraih 42.305.
Sedangkan di Indragiri Hulu, pasangan Rezyta - Junaidi Rahmad berhasil meraih 50.400 suara, di Rokan Hilir pasangan Afrizal Sulaiman yang meraih 92.646 suara, Rokan Hulu Sukiman - Indra Gunawan berhasil meraih 92.323 suara.
"Semua itu bersumber dari real count tim pemenangan yang didapat dari saksi-saksi TPS. Sampai saat ini ada data yang sudah masuk diatas 95 %-100%. Sehingga kita yakin nantinya hasil rekap KPU dengan real count kita tidak akan jauh berbeda," ujarnya.
Dedi juga menyampaikan terimakasih kepada seluruh masyarakat di 9 kabupaten/kota yang sudah berpartisipasi dengan menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada ini, karena menggunakan hak pilih adalah merupakan tanggung jawab sebagai warga negara.
"Karena suara masyarakat adalah penentu siapa pemimpin roda pemerintahan di masing-masing daerah. Pilkada kali ini berjalan lancar serta aman, membuktikan tingkat kedewasaan masyarakat dalam berdemokrasi semakin baik," tuturnya.
Sebagai informasi, Pilkada Serentak ini Nasdem mengusung 8 Paslon, sedangkan 1 Paslon lagi Nasdem hanya mendukung, karena Nasdem tidak memiliki kursi di DPRD Pelalawan.
"Partai NasDem kali ini bisa dikatakan menang banyak pada Pilkada Serentak Riau, karena dari 8 yang kita usung dan 1 yang kita dukung, 6 menjadi pemenang, semoga ini merupakan suatu kebangkitan bagi Partai NasDem di Riau, karena dibanding partai yang lain, yang kita usung lebih banyak menjadi pemenang," tutupnya. ***