SIAK SRI INDRAPURA, GORIAU.COM - Meski pesta pemilihan pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Siak berhasil memilih ketua baru, namun jalannya musyawarah daerah (Musda) dinilai telah membunuh semangat demokrasi di dada pemuda. Pasalnya, sidang berlangsung sangat tidak fair dan terbuka.

''Kita sangat kecewa dengan pimpinan sidang Musda pada agenda sidang pleno III yang sangat tidak memperdulikan suara forum. Pimpinan sidang, Ibnu Hajar memaksakan pendapat atas penafsiran tatib dengan menetapkan salah satu calon, tanpa ada proses penetapan calon. Padahal saat itu, pembukaan calon belum dimulai kalau memang proses penjaringan balon tidak diberlakukan dalam Musda,'' ujar Androy Ade Rianda, Ketua PK KNPI Tualang yang memilih walk out dari sidang III Musda KNPI Siak, Kamis (27/12/2012).

Menurutnya, beberapa kejanggalan dalam proses Musda IV KNPI Siak juga terjadi, sehubungan proses sidang tidak mengikuti agenda jadwal sidang. Bahkan pendapat-pendapat yang muncul tidak ditanggapi, karena pimpinan sidang, Ibnu Hajar tetap pada pendapatnya bahwa tidak harus bertele-tele dalam sidang kalau memang peserta telah mengusulkan satu nama untuk menjadi Ketua KNPI Siak.

"Kita sempat sampaikan, bahwa Musda IV yang dilaksankan sangat tidak mengikuti mekanisme sidang, bahkan membunuh demokrasi. Saya sebagai bakal calon bersama calon lain, dianggap tidak pernah ada di Musda. Dan kalau mekanisme yang dilakukan hanya berdasarkan dukungan terbanyak dengan bukti selembar surat, maka untuk apa ada Musda. Lebih baik buat surat dukungan ke kantor KNPI untuk menunjukk ketua pengganti,'' jelasnya Androy. (***/bun)