SELATPANJANG, GORIAU.COM - Terkadang menjadi tanda tanya besar alokasi dana pendidikan di Meranti mencapai 20 persen dari besaran APBD setiap tahunnya. Sebab, masih ada bangunan sekolah yang tak layak, meski statusnya sudah negeri.

Sekolah yang mirip dengan kandang sapi itu adalah SDN 52 Dusun Nyatuh Desa Batang Meranti, yang sebelumnya merupakan lokal jauh SDN 40 Desa Centai, Kecamatan Pulau Merbau, Kepulauan Meranti, Riau. Pantauan wartawan ketika mengunjungi sekolah ini, terlihat bangunan itu terbuat dari papan. Dindingnya sudah berlubang-lubang. Atap bangunan terbuat dari daun, pun telah banyak robek. Tidak hanya itu, pemandangan paling menyedihkan ketika melihat ke lantai. Tidak ada lantai bantu, lantainya hanya tanah yang sudah retak dan berdebu. Sekolah ini pun mengingatkan seperti sekolah pada film Laskar Pelangi. Meski memiliki semangat belajar yang tinggi, tapi siswa tidak memiliki seragam lengkap saat menuntut ilmu. Mereka biasanya tidak bersepatu saat sekolah. SDN 52 ini terdapat 4 kelas, yang menampung 37 murid. Bahkan ada satu kelas yang harus dibagi dengan ruangan kantor. Hidayat (42), salah seorang guru yang mengajar di SD N 52 mengatakan sekolah tersebut sering kebanjiran disaat musim pasang laut datang. Bahkan murid-murid di sekolah ini merasa tidak nyaman karena atap yang terbuat dari daun rumbia sering bocor saat hujan. "Kalau hujan dan berangin, air hujannya masuk dari celah-celah dinding. Maklum, dinding sekolah ini terbuat dari papan," ujar guru kelas V ini. Selain minimnya fasilitas, Hidayat juga mengungkapkan minimnya sumber Daya Manusia (SDM) yang ditempatkan di sekolah layaknya kandang sapi itu. Kata Hidayat pula, hanya ada 8 orang guru disiapkan untuk mengajar 37 anak-anak desa Nyatuh itu. Dimana, dua diantaranya berstatus PNS sementara enam lainnya masih honor komite. "Guru yang masih berstatus honor komite, mereka hanya mendapatkan gaji Rp200 perbulan dan itu baru dibayar pertiga bulan. Kami masih mengharapkan kucuran dana BOS dari SDN 40 Desa Centai. Saat ini para guru dan siswa mengeluhkan sarana dan prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar," kata Hidayat lagi. Selain gaji Rp200 ribu perbulan, ada pula guru yang secara sukarela mengajar di sana. Dia adalah Salmah (21). Salmah mengaku tidak berharap digaji dari sekolah ini, Ia hanya berharap agar sekolah ini maju dan memiliki banyak murid. "Kasihan betul sama murid-muridnya. Mereka menimba ilmu dari sekolah yang sangat minim fasilitas. Seperti langit dan bumi jika dibandingkan sama sekolah lainnya (kota dan di televisi, red)," kata Salmah pula. "Jangankan perpustakaan, toilet saja sekolah ini tidak punya,dan bisa dilihat tidak ada satu pun gambar presiden yang terpasang di semua kelas," tambah Salmah lagi. "Saya berharap kepada pemerintah daerah agar membuatkan gedung yang layak untuk murid-murid di sekolah ini," harap Salmah yang juga diaminkan oleh guru yang lainnya. Hasil pantauan di lapangan, di sekolah ini terdiri 37 unit bangku dan 20 meja. Sekolah yang berdiri pada tahun 2005 ini merupakan inisiatif masyarakat setempat yang berupaya membangun gedung sekolah dengan mengumpul uang secara swadaya dan membangunnya dengan cara gotong royong.(zal)