SELATPANJANG – Suasana hangat Lebaran masih terasa kental di Dusun I Kamter, Desa Renak Dungun, Kecamatan Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Pada hari kedua Idul Fitri 1447 Hijriah, Minggu (22/3/2026), warga yang tergabung dalam jamaah Masjid Istiqomah kembali menghidupkan tradisi turun-temurun berupa baraan, yakni kunjungan dari rumah ke rumah dalam semangat kebersamaan.

Sejak pagi, rombongan mulai bergerak menyusuri permukiman warga. Dari satu rumah ke rumah lainnya, mereka membawa pesan yang sama mempererat silaturahmi dan saling memaafkan. Aktivitas ini berlangsung sepanjang hari, hanya terhenti sejenak saat waktu Salat Dzuhur tiba, sebelum kembali dilanjutkan hingga menjelang sore.

Di setiap persinggahan, suasana keakraban begitu terasa. Tuan rumah menyambut hangat kedatangan rombongan dengan hidangan khas Lebaran, sementara para tamu menyampaikan doa, berjabat tangan, dan saling bermaafan dalam suasana penuh kekeluargaan.

Pengurus Masjid Istiqomah, Asyari, mengaku terharu melihat partisipasi masyarakat yang tetap tinggi dalam menjaga tradisi ini. Menurutnya, baraan bukan sekadar agenda tahunan, tetapi telah menjadi bagian penting dalam memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.

Ia berharap kebiasaan baik ini tidak tergerus zaman dan tetap diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai salah satu cara menjaga keharmonisan kampung.

"Harapan kami, tradisi ini terus hidup dan menjadi warisan kebersamaan yang selalu dirindukan setiap Lebaran," ujarnya.

Sementara itu, salah seorang peserta juga mengungkapkan rasa bahagianya bisa kembali mengikuti tradisi tersebut. Ia menilai, baraan menjadi momen istimewa yang selalu dinantikan setiap tahun.

"Setiap Idul Fitri kami memang menunggu kegiatan ini. Rasanya berbeda, karena bisa bertemu langsung dengan banyak warga, saling bersalaman, dan benar-benar merasakan kebersamaan," tuturnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut bukan hanya soal kunjungan, tetapi juga menjadi kesempatan mempererat hubungan yang mungkin jarang terjalin di hari biasa.

"Lewat baraan ini, silaturahmi jadi lebih dekat. Yang lama tidak bertemu bisa kembali akrab. Ini yang membuat tradisi ini selalu kami jaga," tambahnya.

Bagi warga Dusun Kamter, baraan bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga cerminan nilai kebersamaan yang terus dijaga, bahkan di tengah perubahan zaman. ***