SEJAK diproklamirkannya kemerdekaan Bangsa Indonesia oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada lebih dari 76 tahun yang silam, Bangsa Indonesia berdiri menjadi sebuah negara yang merdeka, dan terbebas dari belenggu penjajahan bangsa asing.  Bangsa Indonesia yang sebelumnya terdiri dari kumpulan kerajaan-kerajaan di nusantara dan daerah-daerah bekas jajahan Belanda, kemudian bersatu dengan tujuan yang sama yaitu menjadi sebuah bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur.  Sejak itu pula, Bangsa Indonesia terus mengejar ketertinggalan dari semua bidang, baik itu politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya.  

Dalam perjalanannya, upaya Bangsa Indonesia untuk menjauhkan diri dari ketertinggalan ternyata tidak berjalan dengan mulus sebagaimana yang diharapkan.  Berbagai pelaksanaan program pembangunan semesta yang telah direncanakan oleh pemerintah, tidak jarang menjadi terhambat dan bahkan terhenti total.  Adanya agresi militer Belanda pertama dan kedua, serta berbagai pemberontakan yang terjadi di berbagai penjuru tanah air, menjadi jalan terjal bagi Bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-citanya. 

Kini, setelah beberapa dekade berlalu, Bangsa Indonesia dapat hidup dengan damai dan keluar dari zona peperangan yang selama ini menguras energi pemerintah dan semua anak bangsa.  Namun, hal ini bukan berarti kita sepenuhnya terbebas dari ancaman.  Harus diakui, masih ada konflik bersenjata dan pertikaian yang terjadi di beberapa daerah yang mengancam kedaulatan bangsa.  Tetapi kondisi ini masih dapat dikendalikan dan tidak sampai meluas menjadi konflik nasional.  Ancaman yang sesungguhnya terjadi saat ini bukanlah peperangan ataupun pemberontakan, tetapi persaingan global yang melibatkan semua negara dan berdampak pada perubahan di semua bidang kehidupan.

Potensi ancaman lainnya adalah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang tiada henti.  Hal ini mengakibatkan semua negara tidak lagi hanya dituntut mampu beradaptasi terhadap semua perubahan yang terjadi, tetapi sudah saatnya mampu bertransformasi, agar dapat terus berjalan dengan cepatnya perubahan.  Bagi Bangsa Indonesia sendiri, kedua ancaman tersebut haruslah dapat diubah menjadi sebuah tantangan yang memberikan motivasi tersendiri bagi kita untuk menjaga eksistensi dan kemandirian kita sebagai sebuah bangsa. 

Kemandirian sebagai salah satu nilai kebangsaan yang bersumber dari NKRI, merupakan kemampuan Bangsa Indonesia untuk bertindak dan mengambil keputusan sendiri tanpa diatur dari pihak lain.  Esensi kemandirian Bangsa Indonesia terletak dari kemampuan mengelola secara berdaulat terhadap keunggulan geografi, demografi, dan semua potensi kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia.  Mengingat besar dan luasnya ruang lingkup pengelolaan dimaksud, tentu Bangsa Indonesia tidak bisa sendiri, melainkan perlu membangun kerjasama dengan pihak lain guna memperoleh manfaat yang lebih optimal.  Namun kerjasama yang dilakukan tetap berpegang pada kedaulatan bangsa. Intinya, kemandirian suatu bangsa tersebut lebih pada kedaulatan untuk menentukan nasibnya sendiri dan menyejajarkan dirinya secara terhormat dengan bangsa maju lainnya.

Kembali pada awal pembuka tulisan ini, timbul pertanyaan menggelitik, apakah Bangsa Indonesia yang telah berumur lebih dari 76 tahun ini benar-benar sudah “merdeka”? Karena makna merdeka itu berkaitan dengan kedaulatan, dan kedaulatan identik dengan kemandirian.  Benarkah kita sudah mandiri dari sisi ekonomi, teknologi, pangan, energi, dan bidang-bidang yang lainnya? dan benarkah pemerintah  sudah mandiri dalam mengambil keputusan tanpa intervensi pihak asing? Masing-masing kita tentu punya jawaban tersendiri, tidak terkecuali pemerintah tentunya.  Apapun jawaban dan argumentasi dari masing-masing pihak, tentunya kita bisa bersepakat bahwa kemandirian bangsa adalah sesuatu yang mutlak dan sangat mendasar yang dibutuhkan oleh semua bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Salah satu modal penting untuk membangun kemandirian bangsa adalah memiliki daya saing.  Bangsa yang memiliki daya saing adalah bangsa yang berkemampuan untuk bersaing dan bersinergi dengan bangsa lainnya untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya.  Dengan kekayaan sumber daya alam yang kita miliki, secara ekonomi kita mestinya sudah memiliki berbagai keunggulan absolut (absolute advantage) pada banyak barang produksi yang secara alami melimpah, dan terlebih lagi bila barang tersebut bersifat terbatas ketersediaanya di dunia.  Sumber kekayaan alam yang selama ini kita andalkan seperti hasil tambang tentunya lambat laun akan habis, maka kini bangsa kita pun sudah mulai beralih pada penguatan hasil-hasil produksi di sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan yang lainnya.

Keunggulan absolut lainnya yang dimiliki Bangsa Indonesia adalah letak geografis yang strategis dan keindahan alamnya yang luar biasa.  Belum lagi bila keunggulan tersebut dipadukan dengan kekayaan budaya bangsa kita yang beraneka ragam dan karakteristiknya yang khas.  Karena itu sektor pariwisata dapat menjadi harapan dan andalan untuk peningkatan perekonomian bangsa kita kedepannya, bila mau benar-benar dikelola secara baik.  Keunggulan-keunggulan seperti inilah yang mestinya bisa dimanfaatkan dengan optimal, sehingga kita dapat memperkuat daya saing bangsa. 

Hal penting berikutnya yang perlu menjadi perhatian kita bersama adalah mengoptimalkan ketersediaan jumlah penduduk kita yang banyak.  Bonus demografi di satu sisi adalah tantangan, namun di sisi yang lain dapat menjadi kekuatan dan modal pembangunan.  Di era revolusi industri 4.0 sekarang ini, strategi pengembangan kualitas sumber daya manusia tentunya tidak lagi berorientasi untuk mempersiapkan tenaga kerja guna pemenuhan kebutuhan industri, karena hampir semua peran dan tugas kerja sudah dapat digantikan oleh mesin atau tenaga robot.  Strategi yang perlu dilakukan saat ini adalah dengan mempersiapkan bonus demografi yang kita miliki tersebut menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu generasi yang cerdas, terampil, kreatif, dan produktif.  Mereka diharapkan memiliki daya saing yang tinggi bukan untuk sebagai pekerja, melainkan untuk menciptakan lapangan kerja baru.

Selain mengoptimalkan keunggulan absolut, kita juga harus memperkuat keunggulan komparatif (comparative advantage).  Setiap barang hasil produksi suatu negara memiliki bahan baku dengan kualitas yang berbeda, dan biaya produksi yang  tidak sama bila dibandingkan dengan barang hasil produksi dari negara lainnya.  Dengan memfokuskan produksi barang-barang yang memiliki keunggulan komparatif, kita tentunya dapat lebih mampu bersaing lebih baik dengan negara lainnya.  Selanjutnya kita juga perlu mengembangkan keunggulan kompetitif (competitive advantage) dengan meningkatkan nilai tambah barang/jasa yang akan kita tawarkan ke negara lain.  Keunggulan kompetitif ini tidak hanya soal kualitas dan harga, tetapi juga berkaitan dengan komitmen dan pelayanan prima yang bisa diberikan.

Berbagai keunggulan yang telah diuraikan tersebut, perlu dikelola secara berkelanjutan mengingat perubahan yang terus terjadi.  Konsistensi dan kebersamaan semua elemen bangsa untuk terus dan terus berbenah, menjadi faktor kunci dalam meningkatkan berbagai keunggulan yang ada.  Prinsipnya, semua sumber daya yang kita miliki haruslah dapat dikelola menjadi potensi kekuatan yang mampu mendorong daya saing bangsa kita  menjadi lebih baik.  Dengan daya saing bangsa yang unggul di berbagai bidang diharapkan dapat membangun dan memperkokoh kemandirian bangsa. ***

* Penulis adalah Senior Trainer BPSDM Provinsi Riau