SELATPANJANG, GORIAU.COM - Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Kepulauan Meranti, Mulyono, mengakui merasakan risau atas masih banyaknya ditemukan penjual makanan di Meranti menggunakan stapler dalam membungkus makanan. Tindakan ini dinilai bisa membahayakan para konsumen, sebab anak stapler tersebut bisa terletak dan berakibat fatal.


Demikian disampaikan Mulyono kepada wartawan, Kamis (14/5/2014). Kata Mulyono, Ia juga merasa risau apalagi bagi bagi anak-anak yang kurang diawasi orang tua ditakutkan menjadi korban.
"Kita minta pada pengusaha rumah makan dan penjual makanan lainnya dapat ikut memikirkan para konsumen yang mengonsumsi makanan mereka. Karena ini cukup berbahaya karena tidak tercerna," ungkapnya.
Ia juga menghimbau bisa menggunakan karet gelang untuk membungkus makanan, meskipun harga sedikit lebih mahal. Atau setidaknya menggunakan stapler dengan ukuran besar, sehingga bisa terlihat dengan jelas.
"Atau biarlah staples hanya digunakan untuk kita menjadi alat kerja di kantor bukan untuk menjual makanan," tukas Mulyono
Kekhawatiran dan imbauan ini bukannya tidak beralasan, anak staples pada bungkus makanan selalu tertelan oleh konsumen yang tidak sadar dialami oleh salah seorang warga Selatpanjang, Pandi (27) sekitar 2 pekan yang lalu.
Kata Pandi, saat itu Ia membeli nasi bungkus di salah satu rumah makan terkenal di Selatpanjang. Ia melihat bungkusnya pakai stapler, cuma waktu makan Ia tidak menyadari sampai tertelan. Kemudian terasa ada yang nyangkut di tenggorokan.
"Akhirnya saya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan," cerita Pandi.
Memang saat ini di Selatpanjang para penjual masih sering menggunakan stapler untuk membungkus makanan, meski ada beberapa yang menggunakan karet gelang.
"Kalau penjualnya menggunakan karet, tak masalah karena kalaupun tidak sengaja termakan pasti akan terasa karena ukurannya yang cukup besar dan terlihat. Tapi jika sang penjual sudah menggunakan Jepretan Stapler, saya langsung takut," tambahnya lagi.(zal)