PEKANBARU – Sektor pariwisata Provinsi Riau masih menghadapi tantangan sepanjang Agustus 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Riau mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada bulan tersebut sebanyak 25.862 kunjungan, turun 33,39 persen dibandingkan capaian yang sama pada Agustus 2024.

Penurunan signifikan ini juga terlihat dalam akumulasi periode Januari–Agustus 2025, di mana total kunjungan wisman hanya mencapai 172.083 kunjungan. Angka ini mengalami kontraksi yang cukup dalam, yakni turun 46,63 persen secara kumulatif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Jumlah wisman ini turun sebesar 3,20 persen dibandingkan Juli 2025 (month-to-month) dan turun 33,39 persen dibandingkan bulan yang sama pada tahun lalu (year-on-year)," kata Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi dikutip dalam rilis resminya, Jumat (3/10/2025).

Pada Agustus 2025, wisatawan asal Malaysia masih mendominasi dengan kontribusi 45,17 persen atau setara 11.681 kunjungan. Posisi berikutnya ditempati oleh wisman dari China (7,81 persen) dan Singapura (4,91 persen).

Meski secara umum turun, terdapat sedikit tren positif dari beberapa negara. Kunjungan wisman dari Inggris tercatat naik 35,62 persen dibanding bulan sebelumnya, diikuti oleh Korea Selatan yang mengalami kenaikan 18,18 persen. Sayangnya, peningkatan dari negara-negara ini belum cukup signifikan untuk mengimbangi penurunan dari pasar utama lainnya, seperti Amerika Serikat dan Belanda yang masing-masing turun drastis di atas 90 persen.

Tantangan yang sama juga tercermin dari kinerja hotel berbintang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) pada Agustus 2025 turun menjadi 43,68 persen, atau turun 2,90 poin dari bulan sebelumnya.

Hotel bintang tiga menjadi yang paling tahan, dengan TPK mencapai 51,80 persen. Satu titik terang adalah Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) yang mengalami peningkatan tipis menjadi 1,37 hari, naik dari 1,34 hari pada Juli 2025.

Data ini mengindikasikan bahwa sektor pariwisata Riau masih memerlukan strategi pemulihan yang lebih agresif dan terarah, tidak hanya mengandalkan pasar tradisional, tetapi juga membidik potensi dari pasar baru yang menunjukkan tren positif untuk mendongkrak kinerja secara keseluruhan. ***