
PEKANBARU - Hingga Jumat (10/6/2016) siang, Satgas darat penanggulangan kebakaran lahan dan hutan (Karlahut) Riau fokus untuk memadamkan kobaran api yang menghanguskan 30 hektar lahan di Desa Pangkalan Terap, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan Riau.
Selain satgas darat, pemadaman juga dibantu dengan satgas udara yang melakukan bom air (waterbombing) dengan menggunakan helikopter. Beratnya medan dan jauh di pedalaman membuat regu harus kerja ekstra, sembari tetap berpuasa.
Bahkan, informasi dari Kalaksa BPBD Pelalawan mengatakan bahwa ada anggotanya yang jatuh pingsan di perjalanan, disebabkan teriknya matahari dan tidak ada tempat berteduh di tengah semak belukar. "Medannya sangat berat," ujar Kasibaseops Disops Lanud Roesmin Nurjadin, Mayor Lek Ferry Duwantoro.
Ia menggambarkan, di sana, kondisi lahan gambut kering di bagian atas namun basah di bawah. Belum lagi rintangan berupa semak belukar tinggi dan rawa-rawa. "Di sana (Teluk Meranti, red) sumber api berasal dari semak belukar dekat sawah masyarakat. Itu jauh di pedalaman," sambung dia.
Untuk ke sana, tim gabungan harus menggunakan Pompong selama 15 menit dan dilanjutkan berjalan kaki melewati rawa dan semak belukar sejauh tiga Kilometer. "Kondisinya kering (di atas), saat dilewati ternyata basah (di bawah). Kalau tidak hati-hati bisa terperosok," ungkapnya.
Kabupaten Pelalawan dalam dua hari terakhir memang jadi fokus Satgas dalam upaya pemadaman titik api, di mana hasil laporan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), di sana sangat mendominasi titik panas.
Titik panas tersebut dipicu lantaran Riau sudah mulai masuk ke tahap musim kemarau. Bahkan temperatur maksimal bisa mencapai 35 derajat Celcius. Ditambah lagi masih adanya orang-orang yang membakar lahan.
Laporan terbaru dari posko Jumat sore, sebagian Kawasan Teluk Meranti sudah diguyur hujan ringan, sehingga diharapkan dapat mengurangi kebakaran lahan yang melanda daerah itu dalam dua hari ini. ***