
PALEMBANG – Kasus dugaan kekerasan terhadap seorang siswi sekolah dasar di Palembang kembali menjadi sorotan publik. Seorang siswi berinisial F (7) pulang sekolah dengan mata lebam dan merah, setelah diduga menjadi korban pukulan seorang guru yang memakai cincin.
Kabar ini mencuat setelah ibu korban, Sukirnawati (40), melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. Video dan foto kondisi sang anak pun beredar luas di media sosial, memantik simpati sekaligus tanda tanya besar: apa yang sebenarnya terjadi di sekolah itu?
Menanggapi hal tersebut, Kepala Sekolah, Eka Okta Nugraha, mengaku sama terkejutnya dengan publik. Ia menegaskan bahwa tidak ada guru di sekolahnya yang memakai cincin, apalagi melakukan kekerasan terhadap murid.
“Itu juga saya kaget, karena guru di sekolah ini tidak ada yang pakai cincin,” ujarnya saat ditemui, Senin (3/11/2025).
Eka menjelaskan, pada hari kejadian, wali kelas F sedang izin, dan kegiatan belajar-mengajar diisi oleh guru pengganti. Namun, guru pengganti itu pun disebut tidak mengenakan cincin.
“Wali kelas izin, jadi guru pengganti yang masuk. Tapi guru pengganti juga tidak pakai cincin. Kami masih pelajari kronologinya,” katanya.
Menariknya, dari keterangan salah satu guru, kondisi mata F sudah terlihat sedikit merah sejak pagi saat datang ke sekolah. “Anak ini waktu datang sudah tampak sedikit merah di bagian mata, tapi belum seperti kondisinya sekarang,” tambahnya.
Eka menyebut, pihaknya baru mengetahui kondisi serius siswinya setelah ibunya datang panik menjemput F dari sekolah. “Orang tuanya datang panik, lalu membawa anaknya ke puskesmas,” kata Eka.
Keesokan harinya, Sukirnawati datang kembali ke sekolah membawa surat rujukan dari puskesmas, sekaligus memberitahu bahwa anaknya tidak bisa masuk sekolah karena masih menjalani pemeriksaan medis.
“Selasa (28/10), ibu korban datang membawa surat izin dari puskesmas. Kami hormati proses itu dan ikut menunggu hasil pemeriksaan,” ujar Eka.
Pihak sekolah kini menyerahkan sepenuhnya kasus ini ke kepolisian. Mereka siap bekerja sama jika dibutuhkan dalam penyelidikan. “Kami tunggu hasil pemeriksaan polisi, karena kami juga ingin tahu penyebab pastinya,” tegas Eka.
Sementara itu, di luar sekolah, kasus ini mengundang banyak perhatian warganet. Beberapa pihak meminta agar proses hukum berjalan objektif, tanpa menyudutkan guru sebelum fakta terungkap.
“Ini harus hati-hati. Bisa jadi anak memang sudah cedera sebelumnya, bisa juga memang ada kekerasan. Tapi jangan buru-buru menyalahkan siapa pun,” ujar seorang pemerhati pendidikan di Palembang.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya transparansi dan komunikasi antara sekolah, orang tua, dan aparat hukum. Bagi banyak orang tua, keselamatan anak di lingkungan sekolah adalah hal utama yang tak bisa ditawar.
“Yang paling penting sekarang adalah kepastian penyebabnya. Karena yang dilindungi bukan hanya anak, tapi juga nama baik sekolah dan guru,” tutup Eka. ***