PEKANBARU, GORIAU.COM - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau sudah menjadi langganan setiap tahunnya. Dampaknya jelas, kerugian dari berbagai aspek menggerogoti seluruh dataran Riau.

Baik kerugian materi seperti kebakaran hutan dan lahan, kebakaran rumah, timbulnya berbagai macam penyakit, warga mengungsi, sekolah-sekolah diliburkan dan terganggunya jadwal penerbangan.

Bahkan dampak asap yang ditumbulkan sudah mencapai provinsi dan negara lainnya. Kondisi ini terjadi setiap tahunnya, terutama saat masuk musim kemarau. Sementara tahun ini menurut data dari BMKG, musim kemarau akan dimulai pada April-Oktober 2014.

"Sudah 90 unit rumah terbakar dan lebih kurang 300 warga yang mengungsi," kata Gubernur Riau, H Annas Maamun dalam sambutannya saat memimpin Apel Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap provinsi Riau, di Lapangan TNI AU Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, Rabu (5/3/2014).

Kemudian penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) tercatat lebih kurang 31 ribu jiwa. Sementara data hutan dan lahan yang terbakar dari 27 Februari 2014 lalu sudah mencapai 11 ribu ha lebih.

Untuk tahun ini sudah tidak ada lagi antisipasi, namun lebih kepada penanggulangan. Fokus utama Pemprov Riau yakni membentuk petugas pemadam di masing-masing desa sebanyak lima petugas.

Sementara untuk kecamatan ditempatkan tiga pemadam. Seluruh petugas tersebut nantinya akan diberikan honor sebesar Rp300 ribu setiap bulannya. Selain itu, mereka juga akan dilengkapi dengan fasilitas pendukung, seperti pakaian dan peralatan.

Mekanisme kerja, mereka tetap akan diberikan honor meski ada atau tidak kebakaran terjadi di Riau. "Mereka tetap akan diberikan honor, karena sifatnya berkelanjutan," sambung Annas.***