PEKANBARU - Lingkungan keluarga memegang peran krusial sebagai benteng pertahanan pertama dalam mencegah penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) pada anak. Penguatan ketahanan di dalam rumah menjadi langkah strategis untuk mencetak generasi muda yang memiliki karakter, toleran, dan berjiwa nasionalis tinggi.

Hal ini ditegaskan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Provinsi Riau, Fariza saat menyatakan dukungannya terhadap Program Riau Tangkal Ancaman dan Kembangkan Nilai Kebangsaan (RATAKAN). Program edukasi ini tengah digencarkan oleh Satgaswil Riau Densus 88 Anti Teror Polri di berbagai tingkat sekolah dasar hingga menengah, Jumat (26/6/2026).

Fariza menyebutkan bahwa rumah adalah lingkungan paling awal yang membentuk moral dan ketahanan ideologi anak. Oleh sebab itu, orang tua wajib berdiri di barisan terdepan untuk menanamkan rasa saling menghargai dan cinta tanah air.

"Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Sebelum mengenal lingkungan luar, anak lebih dahulu belajar dari orang tua dan keluarga. Karena itu, pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme harus dimulai dari rumah melalui penguatan nilai kebangsaan, toleransi, serta kasih sayang dalam keluarga," ujar Fariza.

Ia menambahkan, masifnya perkembangan teknologi dan media sosial kini membawa tantangan tersendiri bagi pola asuh orang tua. Akses internet yang tanpa batas membuat kalangan remaja sangat rentan terpapar konten negatif, ujaran kebencian, hingga propaganda yang melenceng dari pedoman nilai Pancasila.

"Orang tua perlu hadir di tengah perkembangan teknologi yang dihadapi anak-anak. Bukan hanya mengawasi, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka, memberikan pemahaman yang benar, dan menjadi tempat bertanya yang nyaman ketika anak menemukan informasi yang membingungkan di ruang digital," paparnya.

Atas dasar tersebut, pemerintah daerah memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan Program RATAKAN yang sukses menjangkau puluhan ribu pelajar, khususnya di wilayah Kota Pekanbaru dan Kabupaten Siak. Langkah pencegahan ini dinilai sebagai investasi sosial yang sangat penting demi menjaga keutuhan ideologi generasi penerus bangsa.

"Kami menyambut baik dan mendukung penuh Program RATAKAN yang dilaksanakan Satgaswil Riau Densus 88 AT Polri. Program ini tidak hanya memberikan edukasi kepada peserta didik, tetapi juga meningkatkan kesadaran seluruh elemen masyarakat tentang pentingnya menjaga generasi muda dari pengaruh paham yang bertentangan dengan Pancasila," ungkapnya.

Sebagai instansi yang menaungi langsung urusan perlindungan anak, Dinas P3AP2KB Provinsi Riau memastikan akan terus mendorong program-program penguatan ketahanan keluarga. Hubungan rumah tangga yang harmonis dan penuh perhatian diyakini mampu membentuk pertahanan psikologis anak agar tidak mudah termakan ajakan kelompok ekstrem.

"Ketika anak merasa dihargai, didengarkan, dan mendapatkan perhatian yang cukup dari keluarga, mereka akan memiliki kepercayaan diri serta kemampuan berpikir yang lebih baik dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif dari lingkungan sekitar," jelasnya.

Kolaborasi Semua Pihak Cegah Radikalisme

Fariza mengajak seluruh orang tua untuk mulai membiasakan budaya diskusi terbuka di rumah, baik saat membahas soal etika bermedia sosial maupun mengenali ciri-ciri informasi yang bernada kebencian. Keberhasilan menangkal bahaya IRET sangat bergantung pada kerja sama semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, hingga aparat penegak hukum.

"Membangun generasi yang tangguh tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Diperlukan kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Ketika seluruh pihak bergerak bersama, kita akan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, toleran, dan cinta tanah air," tegasnya.

Sebagai informasi tambahan, pelaksanaan Program RATAKAN sejauh ini telah berhasil menjangkau 94 sekolah. Total partisipasi dalam kegiatan edukasi tersebut mencapai 84.369 siswa, 1.972 guru, 135 guru bimbingan konseling, serta 66 kepala sekolah. Angka ini mencerminkan kuatnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keamanan lingkungan sosial masyarakat. ***