
BENGKALIS, GORIAU.COM -Kepastian pemberhentian Bupati dan Wakil Bupati Bengkalis yang ditunggu-tunggu ribuan massa pendemo akhirnya tidak terjawab. Kabupaten Bengkalis mulai bergejolak dan membara karena jawaban dari Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bengkalis, Jamal Abdillah tidak memuaskan bagi pendemo sehingga melahirkan bentrokan antara massa pendemo dengan aparat kepolisian.
Ketua DPRD Bengkalis, Jamal Abdillah dalam penyampaian jawaban hasil tuntutan massa tersebut mengatakan bahwa untuk melakukan penurunan kepala daerah membutuhkan proses. Tidak bisa langsung dan tidak semudah membalikkan telapak tangan.
''Beri dewan waktu untuk memproses ini, kami memberikan izin kepada 10 orang perwakilan untuk hadir ke dewan setiap ada rapat, kami membuka pintu DPRD Bengkalis selebar-lebarnya apapun jenis sumbang saran sehingga semua saran itu akan kami rangkum untuk melanjutkan proses ini. Kami minta menjaga ketertiban di negeri kita ini, sebagai orang Melayu kita menjaga etika dan budaya melayu. Ada banyak proses yang harus dilewati,'' kata Jamal di hadapan massa yang tidak puas atas jawabannya itu.
Seusai Jamal menyampaikan hasil tersebut, salah seorang dari tim massa menaiki atas mobil yang bersebelahan dengan Jamal, langsung ikut berorasi. Mendengar orasi dari seorang tim massa yang berpakaian kemeja panjang dan topi RSDC itu, maka massa yang merasa jengkel dan menyuruh turun paksa orang tersebut.
Setelah Jamal dan seorang tim pendemo yang mengenakan kemeja panjang dan topi bermerk RSDC itu turun, maka terjadilah pelemparan air mineral ke arah Ketua DPRD dan seorang tim pendemo.
Pelemparan tidak hanya sekali, namun terus dilakukan bertubi-tubi. Bahkan ada yang melempar batu dan kayu sehingga aparat kepolisian pun langsung mencari siapa biang keonaran atau provokator dalam aksi tersebut. Bentrokan sempat memakan waktu sekitar 15 menit. Massa semakin beringas tidak memandang bulu.
Aparat kepolisian bersenjatakan tameng dan rotan pun sempat menghalau mundur massa pendemo. Namun sempat juga massa kembali maju dan mendorong aparat kepolisian. Satu orang yang diduga provokator mengenakan kaos bergambar dan memakai helm itu diamankan dan dibawa ke dalam gedung DPRD Bengkalis juga seorang pria yang ikut berorasi diatas mobil mengenakan seragam lengan panjang dan topi pun diamankan.
Pukul 16.40 WIB, massa pun membubarkan diri masing-masing. Namun sebagian massa yang tetap bertahan di depan gedung DPRD Bengkalis. Dan petugas kepolisian pun ikut berjaga-jaga hingga berita ini diturunkan.
Robohkan dan Bakar Baliho Bupati
Sebelumnya, massa yang kecewa juga melepas dan merobohkan baliho di setiap kantor dinas yang bergambar orang nomor satu dan dua di Kabupaten tersebut. Bukan itu saja, setelah baliho disobek dan diturunkan, massa pun telah mempersiapkan bara api yang terbuat dari bahan ban bekas untuk membakar seluruh baliho tersebut. Aparat keamanan pun tidak bisa berbuat banyak karena masih ada batas dan ketentuan yang perlu ditolelir kembali. Namun, setelah api mulai membesar, aparat kepolisian dari Polres Bengkalis langsung mengambil tindakan cepat untuk memadamkan bara api yang membara dibawah komando Kapolres Bengkalis AKBP Toni Ariadi Effendi SIK. Alhasil, api pun berhasil dipadamkan.
Menurut Kapolres Bengkalis, AKBP Toni Ariadi Effendi SIK ditengah kerumunan massa tepatnya diatas mobil massa mengatakan dan berharap agar massa bisa sama-sama menjaga ketertiban di Kabupaten Bengkalis agar tidak anarkis sehingga nantinya tercipta suasana yang kondusif. Setelah mendapatkan arahan langsung dari Kapolres Bengkalis, massa bersikap tenang. (jfk)