
JAKARTA - Awal pekan menjadi momen berat bagi pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,98 persen ke level 6.116,69. Nilai tukar rupiah pun ikut tergelincir 0,22 persen hingga menyentuh level Rp 17.843 per dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan data perdagangan Senin (22/6/2026), tren penurunan sangat terasa. Terdapat 445 saham melemah, sementara hanya 221 saham menguat, dan 147 saham stagnan. Selama sesi berlangsung, volume perdagangan tercatat 22,51 miliar lembar saham. Nilai transaksi menyentuh Rp 13,48 triliun lewat frekuensi 1,73 juta kali.
Kelesuan pasar ini didorong oleh aksi tunggu para investor. Tim Riset Phintraco Sekuritas menilai pelaku pasar sedang menanti hasil Annual Market Classification Review dari Morgan Stanley Capital International yang rilis Rabu (24/6/2026).
"Selain itu, beberapa isu mengenai UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) menimbulkan ketidakpastian di pasar," papar Tim Riset Phintraco Sekuritas.
Tekanan juga terasa di pasar uang. Pelemahan rupiah sore ini ternyata sejalan dengan kondisi mayoritas mata uang di Asia. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi menyoroti proyeksi Bank Indonesia (BI) terkait ancaman inflasi. Kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubdisi serta risiko fenomena El Nino menjadi faktor penekan utama dari dalam negeri.
Dari kacamata internasional, penguatan indeks dolar AS memukul sentimen pasar. Keguncangan bermula saat Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran soal potensi aksi militer tambahan. Langkah tegas itu diambil kecuali Iran bisa mengendalikan kelompok Hizbullah di Libanon.
Meski begitu, ketegangan sedikit mereda usai perundingan.
"Namun, pembicaraan AS-Iran berakhir di Swiss, dengan Teheran mengatakan telah mendapatkan pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia, meredakan kekhawatiran tentang kekurangan pasokan di pasar global," terang Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi.***