TELUKKUANTAN – Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) mencatatkan kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) sebesar 3,52 persen pada minggu pertama September 2026, angka tertinggi di antara delapan kabupaten dan kota non-Indeks Harga Konsumen (IHK) di Provinsi Riau.

Lonjakan mendadak ini menandai pembalikan arah secara tajam setelah wilayah tersebut mencatatkan deflasi berturut-turut sepanjang Agustus 2026. Hal tersebut sekaligus memicu kekhawatiran terkait efektivitas intervensi pasar oleh pemerintah daerah setempat dalam mengendalikan harga komoditas pangan pokok.

Pemkab Kuansing mengonfirmasi lonjakan tersebut dipicu oleh tingginya permintaan pasar yang tidak seimbang dengan ketersediaan pasokan lokal.

"Kenaikan terjadi pada komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai sebagai akibat tingginya permintaan atas ketiga komoditas tersebut, termasuk untuk keperluan Makan Bergizi Gratis (MBG), sementara persediaan di pasar sangat terbatas," ujar Asisten II Setda Kuansing, Napisman, Senin (7/9/2026) di Telukkuantan.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, laju kenaikan harga di Kuansing berada jauh di atas rata-rata IPH gabungan tingkat provinsi yang tercatat sebesar 1,84 persen. Daging ayam ras memberikan andil kenaikan terbesar mencapai 2,1884, disusul cabai merah sebesar 1,1131, dan telur ayam ras sebesar 0,3066.

Pemantauan lapangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (Diskopdagrin) Kabupaten Kuansing per 7 September 2026 di Pasar Tradisional Berbasis Modern Teluk Kuantan menunjukkan harga daging ayam ras bertahan di level Rp40 ribu per kilogram. Angka ini melonjak sekitar 48 persen dari harga normal sebelumnya di kisaran Rp27 ribu per kilogram.

Sementara itu, telur ayam ras dijual seharga Rp28 ribu per kilogram, dan seluruh jenis cabai mengalami kenaikan serentak dengan harga tertinggi pada cabai rawit merah yang menembus Rp80 ribu per kilogram.

Menyikapi krisis pasokan ini, Napisman menyatakan pemerintah daerah meminta para peternak ayam potong, peternak ayam petelur, dan petani cabai lokal untuk segera meningkatkan volume produksi serta menjaga harga jual agar tidak memberatkan konsumen.

Selain mendorong peningkatan produksi, Napisman juga mengimbau masyarakat untuk melakukan diversifikasi konsumsi pangan guna mengurangi tekanan permintaan pada daging ayam dan telur.

"Pemerintah mengimbau masyarakat untuk memperbanyak konsumsi protein dari sumber lain selain ayam dan telur, seperti ikan," kata Napisman.

Sebagai langkah jangka panjang, Pemkab Kuansing berencana meningkatkan pembinaan dan pelatihan bagi masyarakat guna memperluas basis usaha peternakan dan pertanian lokal demi menjamin ketahanan pasokan daerah di masa depan.***