PEKANBARU - Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Riau (IKA Unri), Muhammad Rustam mengingatkan bahwa lingkungan perguruan tinggi wajib mempertahankan posisinya sebagai ruang akademik yang independen dan terbuka. Kebebasan berpikir maupun otonomi pendidikan di kampus tidak boleh diintervensi oleh kepentingan politik praktis ataupun organisasi kemasyarakatan (ormas).

Rustam menilai keberadaan ormas pada dasarnya adalah elemen penting dalam iklim demokrasi masyarakat sipil. Namun, setiap aktivitas dari entitas eksternal yang masuk ke perguruan tinggi wajib menghormati tata kelola institusi serta hak mahasiswa dalam menentukan arah organisasinya.

"Pada prinsipnya saya tidak anti terhadap ormas. Namun ketika masuk ke lingkungan kampus, seluruh aktivitas harus menghormati independensi perguruan tinggi," urainya, Kamis (23/7/2026).

Ia meminta agar institusi pendidikan tidak dieksploitasi menjadi arena politik bagi kelompok tertentu. Mahasiswa berhak mendapatkan ruang kondusif untuk riset, diskusi, dan mengembangkan gagasan tanpa tekanan pihak luar.

"Kalau ada aktivitas ormas di lingkungan kampus, harus ada batasan yang jelas dan transparan. Mahasiswa harus diberikan ruang untuk berpikir kritis dan menentukan sikap secara mandiri," tegasnya.

Perhatian IKA Unri juga tertuju pada proses pemilihan pimpinan perguruan tinggi. Setiap calon rektor dituntut memiliki komitmen memproteksi sivitas akademika dari dominasi organisasi ekstra kampus (ormek) dan memastikan kebijakan berpusat pada pendidikan.

"Pesan saya kepada semua calon pimpinan kampus, jangan ada ormek yang masuk dan menguasai ruang-ruang kampus. Siapa pun yang terpilih nantinya harus berani menjaga batas yang jelas," ingatnya.

Dukungan pihak luar terhadap suksesi kepemimpinan rektorat juga disorot agar tidak menimbulkan spekulasi negatif di tengah publik. Proses tersebut harus mengedepankan transparansi administrasi untuk menghindari potensi konflik kepentingan.

"Jangan sampai ada dugaan mengenai kepentingan tertentu, termasuk kemungkinan adanya kepentingan ekonomi atau proyek di belakang proses tersebut," paparnya.

Menurutnya, transparansi menjadi instrumen krusial agar pemilihan pimpinan berjalan demokratis. Parameter penilaian murni bertumpu pada kompetensi, rekam jejak, dan integritas para kandidat.

"Kita harus menjaga agar pemilihan rektor tidak dipengaruhi kepentingan politik. Yang harus menjadi ukuran adalah kemampuan calon dalam membawa universitas menjadi lebih maju," terangnya.

Keterlibatan pihak eksternal sejatinya tetap diberikan ruang, asalkan sejalan dengan regulasi akademik dan berorientasi murni pada pengembangan pendidikan tanpa merusak ekosistem intelektual mahasiswa.

"Yang paling penting adalah menjaga kampus tetap sebagai rumah intelektual. Ormas boleh berkontribusi, tetapi jangan sampai independensi kampus dan kebebasan akademik mahasiswa dikorbankan," pungkasnya. ***