
PEKANBARU, GORIAU.COM - Tidak hanya plesiran ke Jerman, ternyata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Riau masih memiliki agenda ke luar negeri dalam waktu dekat. Negara yang dituju adalah Korea.
Ratusan juta anggaran pemerintah sudah dihabiskan Kadisbudpar Riau beserta rombongan untuk berangkat ke Jerman. Tujuannya hanya melihat tempat pembuatan piringan yang kemudian mempromosikan sejarah dan budaya Riau.
"Kalau ke Jerman iya, tetapi kalau ke Korea belum ada kepastian," kata Sekretaris Disbudpar Riau, Abdul Khair saat menerima sejumlah senima Riau di Ruang Muara Takus Kantor Disbudpar Riau, Jalan Sudirman, Pekanbaru, Riau, Kamis (4/9/2014).
Disbudpar Riau dinilai lebih mengutamakan untuk menghambur-hamburkan uang rakyat dengan plesiran ke luar negeri. Sementara di sisi lain, kesenian dan kebudayaan di Riau butuh perhatian.
Berbagai festival dan kegiatan lainnya yang ditaja para seniman sebagian besar tidak tersentuh anggaran dari Disbudpar Riau yang seharusnya menjadi wadah tempat bernaung seni dan budaya Riau.
Contoh kasus nyata yang ada di depan mata adalah kondisi Gedung Seni Idris Tintin yang tidak terawat dan sangat menyedihkan. Gedung yang tidak layak pakai itu masih terpaksa dipakai agar seni dan budaya Riau tetap berjalan.
Sementara tidak ada sentuhan dari Disbudpar Riau untuk mengusulkan perbaikan atau renovasi gedung yang telah memakan anggaran Rp160 miliar tersebut.
Hadir sejumlah senima Riau seperti Hang Kafrawi, Wili, Fedli Aziz, Udin Semekot dan beberapa yang lainnya untuk mempertanyakan apa tujuan plesiran Kadisbudpar Riau beserta rombongan ke Jerman. "Bahkan rencananya juga akan berangkat ke Korea, untuk apa?," tanya Wili.
"Gedung Idris Tintin tinggal menunggu terbakar. Banyak kabel yang sudah terbuka kulit, lampu sudah banyak yang tidak aktif, atap bocor dan sebagian bangunan sudah dimakan rayap," lanjut Wili.
Sejumlah seniman di Riau mendatangi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Riau untuk mempertanyakan sejumlah program satker tersebut yang dinilai banyak tidak bermanfaat dan tepat sasaran, Kamis (4/9/2014).
Namun sayang, keinginan mereka untuk bertemu dengan Kadisbudpar Riau, Said Syarifudin tidak tercapai. Karena yang bersangkutan beralasan sakit gigi. Mereka hanya disambut Sekretaris Disbudpar Riau, Abdul Khair.
"Pak Kadis tidak bisa hadir dalam pertemuan ini, karena lagi sakit gigi," kata Abdul Khair.
Seniman sekaligus budayawan Riau, Hang Kafrawi, yang turut hadir dalam penyampaian aspirasi tersebut menyayangkan keberangkatan para pejabat di lingkup Disbudpar Riau ke Jerman.
Kegiatan itu dinilai hanya menghambur-hamburkan anggaran saja. Sementara masih banyak kesenian dan kebudayaan di Riau yang harus dikembangkan. Salah satunya sepertu Gedung Seni Idris Tintin yang terbengkalai.
"Kami tidak mempermasalahkan keberangkatan, tetapi yang kami sayangkan tidak adanya perhatian Disbudpar Riau untuk perkembangan kesenian dan kebudayaan di Riau," kata Hang Kafrawi.
Dosen Fakultas Budaya Universitas Lancang Kuning (Unilak) ini juga mencontohkan seperti Festival Senin di Sungai Bokor yang dilakukan setiap tahunnya hampir tidak pernah mendapat bantuan dari Disbudpar.
"Para seniman menjalankan festival hanya dengan dana sendiri. Acara sukses tetapi kami harus melunasi hutang," ujarnya.***