JAKARTA - Harga bahan bakar minyak (BBM) dunia diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan, meskipun harga minyak mentah saat ini sedang mengalami tren penurunan. Penyebab utama fenomena ini adalah terbatasnya kapasitas pengolahan minyak secara global akibat berbagai disrupsi geopolitik.

Perusahaan energi multinasional, ExxonMobil Holdings Corp dan Chevron Corp mengingatkan bahwa ketegangan yang berlangsung di Rusia dan Timur Tengah memicu tekanan berat pada fasilitas penyulingan. Secara historis, pergerakan harga bensin, diesel, maupun bahan bakar pesawat (avtur) selalu berbanding lurus dengan minyak mentah. Namun, korelasi tersebut belakangan mulai terputus.

Hambatan Sistem Energi

Chief Financial Officer ExxonMobil, Neil Hansen menyebutkan bahwa masalah utama dalam ekosistem energi saat ini tidak terletak pada pasokan minyak mentah, melainkan pada tahap produksinya.

"Titik kendala dalam sistem energi saat ini adalah pengolahan minyak," urainya, Minggu (2/8/2026).

Menurut catatan Melius Research, hampir 10 persen kapasitas pengolahan minyak dunia saat ini tidak bisa difungsikan. Hal ini dikontribusikan oleh penutupan sebagian jalur Selat Hormuz, dampak konflik yang menyasar kilang-kilang Rusia, hingga kebijakan larangan ekspor dari China. Akibatnya, kilang yang beroperasi harus bekerja dengan kapasitas maksimal, menutup ruang bagi peningkatan volume produksi BBM tambahan.

Harga Terlepas dari Minyak Mentah

Analis Goldman Sachs, Neil Mehta menyoroti bahwa margin keuntungan dari pengolahan minyak kini menyentuh rekor tertinggi, yang menguntungkan pemilik fasilitas namun membebani masyarakat luas.

"Pengolahan jelas menjadi hambatan dalam sistem perminyakan saat ini, dan marginnya sangat tinggi," jelasnya.

Ketimpangan ini tercermin jelas di Amerika Serikat (AS). Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat merosot sekitar 26 persen dari puncak tertingginya sepanjang tahun 2026. Sebaliknya, harga bensin rata-rata masih berada di atas USD 4 per galon, atau hanya turun sekitar 10 persen dari rekor bulan Mei 2026. Penurunan yang minim juga terlihat pada harga diesel yang hanya merosot 6 persen.

Utilisasi Kilang Memuncak

Tingkat keterpakaian (utilisasi) fasilitas penyulingan saat ini terus meroket. Kilang ExxonMobil di kawasan Gulf Coast AS mencatatkan tingkat utilisasi 95 persen pada kuartal kedua 2026, sementara fasilitas Chevron menyentuh 97 persen, dan Shell berada di angka 102 persen.

CEO ExxonMobil, Darren Woods menyatakan bahwa jarak antara ketersediaan kapasitas dan kebutuhan pasar kini berada pada fase terendah.

"Saya belum pernah melihat kapasitas yang tersedia dibandingkan dengan permintaan berada pada tingkat serendah sekarang," tandasnya. ***