
PEKANBARU – Gubernur Riau Abdul Wahid menyatakan dukungan penuhnya terhadap PT SPR Trada, salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang sedang membangun pabrik pengemasan minyak goreng bersubsidi di provinsi tersebut. Pernyataan ini disampaikan Gubernur sebagai bagian dari komitmennya mendorong inovasi di seluruh BUMD Riau.
"Iya kita full support," tegas Abdul Wahid ketika ditemui usai acara pelantikan PPPK, Senin (29/9/2025).
Gubernur menegaskan bahwa BUMD yang tidak menunjukkan kinerja baik akan diberikan waktu untuk berbenah. "Ya, BUMD merugi, saya suruh evaluasi, dikasih waktu, kesempatan untuk berbenah. Jika tidak mampu, ya kita rombak lagi," ujarnya.
Dukungan Gubernur ini sejalan dengan langkah strategis PT SPR Trada yang sedang membangun pabrik mini pengemasan minyak goreng bersubsidi. Direktur SPR Trada, Bemy Hendrias, menjelaskan bahwa pembangunan pabrik ini menjadi bagian dari diversifikasi usaha perusahaan di sektor Hutan Tanaman Industri (HTI).
"Bisnis utama kita adalah HTI, tetapi setelah panen dalam lima tahun biasanya tidak ada aktivitas. Untuk mengantisipasi hal itu, kami menyiapkan bisnis pendukung berupa pabrik pengemasan minyak goreng," jelas Bemy.
Menurutnya, selama ini pengemasan minyak goreng dilakukan di luar Riau, seperti di Medan, sehingga ongkos transportasi membebani konsumen. "Dengan adanya pabrik ini, kami berharap bisa membantu program Pak Gubernur dalam menekan harga sembako," ujarnya.
Pembangunan pabrik yang telah dimulai sejak Mei 2025 ini ditargetkan rampung pada akhir tahun. Hingga saat ini, progres fisik pembangunan telah mencapai 70 persen. Pabrik yang dibangun di atas lahan seluas 1.400 meter persegi dengan bangunan utama 10x15 meter ini menelan investasi sekitar Rp 1,4 miliar.
"Kami berharap menjelang akhir tahun bangunan bisa rampung dan diresmikan langsung oleh Gubernur," kata Bemy.
Dari sisi kapasitas, pabrik ditargetkan mampu mengemas 16 ton minyak goreng per hari. SPR Trada juga menargetkan dividen sebesar Rp 2 miliar pada tahun ini dan Rp 4 miliar pada 2026.
Yang tak kalah penting, perusahaan berkomitmen memprioritaskan tenaga kerja lokal dalam operasional pabrik. "Kami ingin bukan hanya berorientasi pada laba, tapi juga berperan menjaga stabilitas harga minyak goreng di Riau. Putra-putri daerah akan kami prioritaskan dalam perekrutan," tegas Bemy.
Keberadaan pabrik ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi daerah, baik dalam bentuk dividen, penyerapan tenaga kerja, maupun mendukung program pemerintah provinsi dalam stabilisasi harga bahan pokok. ***