JAKARTA – Gelombang donasi untuk korban bencana di Sumatera yang digalang Ferry Irwandi memunculkan perdebatan baru mengenai kondisi sosial politik Indonesia. Pengamat politik Rocky Gerung menyebut fenomena tersebut sebagai “paradoks” yang justru menyingkap jarak antara pemerintah dan warganya.

Dalam percakapan bersama jurnalis senior Hersubeno Arief di kanal Hersubeno Point, Kamis malam (4/12/2025), Rocky menilai munculnya bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak hanya menggambarkan kerusakan alam, tetapi juga menunjukkan rapuhnya hubungan kepercayaan publik terhadap negara.

"Kita lihat satu paradoks. Bahwa pemerintah kesulitan atau kewalahan mengumpulkan pajak untuk membiayai pembangunan," katanya, Jumat (5/12/2025). Ucapannya menyinggung perbandingan mencolok antara kemampuan negara menarik pajak dan antusiasme publik menyalurkan bantuan secara mandiri.

Menurut Rocky, respons masyarakat yang berbondong-bondong menyumbang melalui kanal Ferry Irwandi justru memperlihatkan sesuatu yang berbeda.
“Masyarakat dengan sukarela menyumbang (melalui) saudara Ferry Irwandi, dalam waktu dengan cara seksama dalam tempo singkat-singkatnya miliaran rupiah masuk,” sambungnya.

Ia menilai fakta itu menandakan nilai kemanusiaan justru tumbuh subur di ruang publik, meski tidak tercermin dalam kebijakan pemerintah.
“Itu penanda bahwa kemanusiaan yang adil dan beradab tetap ada dalam masyarakat sipil. Sebaliknya pemerintah tidak peduli dengan kesosialan manusia,” ujarnya.

Rocky, yang pernah mengajar filsafat di Universitas Indonesia, menilai fenomena ini tidak semata tentang bantuan kemanusiaan, tetapi juga menyangkut bagaimana masyarakat memandang legitimasi negara. Ia menyebut ada gejala tidak biasa terkait cara publik memaknai kewajiban bernegara.

“Dan itu yang menyebabkan orang sekarang menganggap bahwa ya lebih baik bayar pajak lewat bencana daripada ditagih oleh pemerintah,” ungkapnya. ***