PEKANBARU – Rangkaian kunjungan lapangan dalam Seminar Green Cities Mayors Council (GCMC) Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) ke-9 berlanjut ke Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kacang Mayang, Pekanbaru, Rabu, 5 Agustus 2026. Setelah mengunjungi SMP Negeri 4 Pekanbaru, para kepala daerah dan delegasi dari Indonesia, Malaysia, serta Thailand diajak melihat sejumlah inovasi pengelolaan lingkungan yang dikembangkan Pemerintah Kota Pekanbaru.

Di lokasi tersebut, para delegasi meninjau waste station atau stasiun penukaran sampah, pemanfaatan Fly Ash and Bottom Ash (FABA) dari PT PLN, hingga kawasan ruang terbuka hijau yang dirancang ramah bagi seluruh kelompok masyarakat. Pemerintah Kota Pekanbaru juga memperkenalkan pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) melalui pembangkit listrik berbasis generator dan pemanfaatan gas metana sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon.

Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengatakan waste station menjadi salah satu inovasi yang mendorong masyarakat lebih aktif memilah sampah. Berbeda dengan sistem sebelumnya yang menggunakan pembayaran tunai, kini masyarakat memperoleh insentif melalui sistem uang elektronik (e-money).

"Di sini ada waste station untuk penukaran sampah. Kalau dulu masyarakat menerima uang tunai, sekarang sudah menggunakan e-money. Tujuannya agar masyarakat semakin terdorong memilah sampah sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi dari sampah yang mereka kumpulkan," kata Agung.

Selain memperkenalkan sistem pengelolaan sampah, Pemerintah Kota Pekanbaru juga memaparkan pengembangan teknologi di TPA melalui pemanfaatan gas metana. Menurut Agung, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mendukung pengurangan emisi sekaligus membuka peluang pengembangan program penangkapan karbon (carbon capture).

Ia mengatakan kawasan RTH Kacang Mayang juga dirancang sebagai ruang publik yang ramah lingkungan dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga penyandang disabilitas. Konsep tersebut, kata dia, mendapat apresiasi dari para delegasi yang hadir.

"Kami juga memperlihatkan bagaimana TPA memanfaatkan gas metana dan pengembangan menuju carbon capture. Kemudian RTH ini dirancang ramah lingkungan sekaligus ramah bagi masyarakat. Alhamdulillah seluruh delegasi memberikan apresiasi. Ke depan kami akan saling berbagi pengalaman dan membuka akses kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan tanpa membebani APBD," ujar Agung.

Menurut Agung, kolaborasi dengan sektor swasta menjadi salah satu strategi Pemerintah Kota Pekanbaru dalam memperkuat program pembangunan berkelanjutan. Ia berharap pengalaman yang dibagikan dalam forum GCMC IMT-GT dapat mendorong lahirnya kerja sama antardaerah dan antarnegara dalam mengembangkan inovasi pengelolaan lingkungan. ***