
PEKANBARU - Tingginya angka kecelakaan fatal di Jalan Tol Pekanbaru-Dumai memaksa otoritas terkait memutar otak merumuskan strategi mitigasi. Usai insiden maut yang merenggut lima nyawa di KM 46+200, langkah pencegahan berbasis infrastruktur dan patroli aktif langsung ditingkatkan.
Kepolisian Daerah (Polda) Riau kini tidak lagi sekadar melakukan penjagaan pasif, melainkan menggunakan pendekatan yang lebih agresif untuk "membangunkan" para pengemudi yang kelelahan.
Kasat PJR Ditlantas Polda Riau, AKBP Eko Baskara mengungkapkan bahwa patroli pada jam-jam rawan akan dimodifikasi guna memberikan efek kejut secara langsung kepada pengguna jalan bebas hambatan tersebut.
"Setiap melaksanakan patroli pada waktu-waktu rawan laka, anggota PJR kami instruksikan untuk menyalakan sirene sebagai bentuk pencegahan dan pengingat bagi pengemudi yang berpotensi mengalami kelelahan atau mengantuk," terang Eko, Sabtu (6/6/2026).
Selain perubahan taktik patroli, kepolisian juga mendesak pihak operator jalan tol untuk segera membenahi infrastruktur keselamatan. Faktor human error berupa microsleep dinilai sangat sulit dicegah jika tidak didukung oleh rekayasa jalan yang memadai.
Polda Riau dan PT Hutama Karya selaku pengelola sepakat menjalankan dua intervensi fisik dan audio di sepanjang lintasan:
"Kami sudah melakukan beberapa upaya, antara lain berkoordinasi dengan Hutama Karya untuk mengaktifkan public address di gerbang tol. Selain itu, kami juga meminta pemasangan pita kejut pada beberapa titik rawan kecelakaan," paparnya.
Serangkaian langkah preventif ini diharapkan mampu menekan fatalitas, mengingat lintasan panjang dan lurus tanpa hambatan kerap kali menurunkan tingkat kewaspadaan pengemudi hingga memicu tabrakan maut dari arah belakang. ***