
KEJAYAAN Kesultanan Siak boleh dikatakan nyaris sudah tidak ada lagi. Bangunan yang berdiri kokoh persis di tepi Sungai Siak tampak sudah kian renta. Menurut Bupati Siak, Afni Zulkifli, atapnya bocor di mana-mana. Ada jendela yang terpaksa diganjal dengan kayu agar tak bisa dimasuki.
Rabu pekan lalu ternyata masih ada yang berusaha menggerogoti isi istana tersebut. Sepasang suami istri mengaku dari Bengkalis, pulau di seberang Siak, mencoba mencuri tepak sirih dan tempat pembakaran pengharum yang dulu digunakan sultan. Si maling mengatakan dapat wangsit dari sultan untuk memindahkan peralatan tersebut ke rumahnya.
Rapuhnya pengamanan membuat keutuhan Istana Siak menjadi kian terancam. Padahal kerajaan ini memegang peranan penting mengamankan Selat Malaka dari ketamakan penjajah pada masa lalu. Kejayaannya setara dengan Kesultanan Malaka, Johor, dan Raja Ali Haji di Bintan.
Begitu kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, Sultan Siak yang waktu itu dijabat Syarif Kasim II, langsung menyatakan bergabung dengan republik ini. Padahal, seandainya tetap bersatu dengan kerajaan-kerajaan lainnya di Semenanjung, mungkin nasib Siak saat ini akan sama dengan sejawatnya itu..
Menariknya, Sultan Syarif Kasim II tak hanya omong doang (omdo) menyatakan bergabung dengan republik. Ia langsung datang menemui Presiden Soekarno di Jakarta dengan membawa mahkota kerajaan bertata emas dan permata. Juga uang sebanyak sepuluh ribu gulden, atau senilai miliaran rupiah untuk biaya penyelenggaraan negara.
Pada saat itu Sultan Siak langsung menetap di Jakarta, tanpa minta jabatan apa pun. Setelah sekian lama di ibukota, dan konon nyaris terlupakan oleh pemerintah, beliau pindah ke Tanjungpinang di Pulau Bintan. Ia meninggal dunia di sana.
Karena sudah menyatakan bergabung dengan republik, Sultan Siak pun tak begitu peduli lagi dengan istananya. Tak jelas mengapa ia tak mau mengikuti jejak kesultanan Yogya, Solo, Cirebon, Deli, yang sultannya tetap bertahan di istana.
Padahal, menurut Bupati Afni, rakyat Siak selalu merindukan Sultan. Saat masih kecil, cerita bupati, dia melihat di setiap rumah warga di sana terpampang foto Sultan Siak.
Untuk mengenang kerinduan tersebut, Bupati Afni mengatakan akan menganjurkan agar warga kembali memasang foto Sultan di rumah masing-masing.
Suatu keinginan yang tulus. Sehingga kejayaan sultan tersebut diharapkan akan terbersit lagi di hati masyarakat. Selain itu, sangatlah bagus jika bupati pun menghidupkan kembali Kesultanan Siak. Meskipun tak memiliki keturunan dari permaisuri pertama maupun kedua, tapi secara hukum waris Islam mungkin ada sanak-saudaranya yang bisa mewarisi. Raja Faisal saja di Arab Saudi tak mewariskan tahta kerajaan kepada anaknya.
Keberadaan kesultanan ini nanti dapat dimanfaatkan bupati untuk mengatur rakyat secara adat dan budaya. Dengan begitu tugas bupati dalam menjalankan pemerintahan akan lebih terbantu lagi. ***
* Irwan E. Siregar adalah wartawan senior bermastautin di Pekanbaru,b Riau.