JAKARTA – Unggahan video kekerasan tentara Israel terhadap relawan Global Sumud Flotilla (GSF) oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, memicu kemarahan dunia internasional sekaligus perpecahan kabinet internal. Ratusan relawan, termasuk sembilan Warga Negara Indonesia, kini berstatus sebagai tahanan.

Dalam video yang dibagikan di X, aparat terlihat menjambak, menarik, dan menyeret para aktivis kemanusiaan. Puluhan relawan dipaksa bersujud dalam posisi tangan terikat layaknya tawanan perang. Bukannya prihatin, Ben Gvir justru tertawa dan mengibarkan bendera Israel.

"Selamat datang di Israel," tulisnya.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa'ar, merespons tajam unggahan tersebut. Ia menyebut tindakan itu merusak citra negara.

"Tidak, Anda bukanlah wajah Israel," tegas Sa'ar.

Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, turut murka melihat warga negaranya diperlakukan secara tidak manusiawi. Ia menuntut Israel meminta maaf secara resmi dan segera membebaskan para relawan.

"Tak bisa ditoleransi para pengunjuk rasa ini, yang di antaranya banyak warga negara Italia, diperlakukan seperti ini," urai Meloni.

Sebanyak 50 kapal GSF diketahui bertolak dari Turki, Kamis (14/5/2026) dalam misi menembus blokade Gaza. Pasukan Israel menyergap mereka secara brutal di perairan internasional. Hingga Rabu (20/5/2026), 430 relawan telah ditangkap dan dipindahkan ke Pelabuhan Ashdod.

"Ke-430 aktivis telah dipindahkan ke kapal-kapal Israel dan sedang menuju Israel, di mana mereka dapat bertemu dengan perwakilan konsuler mereka," papar juru bicara Kemlu Israel.

Keberadaan sembilan WNI di antara ratusan relawan membuat Pemerintah Indonesia bergerak cepat. Saluran diplomatik terus diupayakan guna memaksa otoritas Israel membebaskan seluruh warga negara tanpa syarat.***