
JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru yang menunjukkan jumlah pengangguran per Februari 2026 mencapai 7,35 juta orang. Angka ini mengalami penurunan sebanyak 0,109 juta orang dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Meski tren pengangguran menunjukkan perbaikan, tantangan besar masih membayangi sektor ketenagakerjaan, yakni ketersediaan lapangan pekerjaan. Laporan tersebut mencatat lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) menjadi penyumbang angka pengangguran tertinggi, masing-masing menyentuh 8,45 persen dan 6,5 persen.
Ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan industri dapat membawa dampak luas jika terus berlanjut. Hal ini berpotensi memicu penurunan kualitas sumber daya manusia hingga peningkatan angka kemiskinan di tengah masyarakat.
Berdasarkan data BPS, berikut rekam jejak Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia rentang Agustus 2021 hingga Agustus 2025:
1. Agustus 2021 - 6,49 Persen
Tingkat pengangguran mencapai 6,49 persen atau sekitar 9,10 juta orang. Lulusan SMK dan SMA menjadi penyumbang terbesar masing-masing 11,13 persen dan 9,09 persen. Tingginya angka ini sejalan dengan hantaman pandemi Covid-19 yang memengaruhi 21,32 juta penduduk usia kerja, menyebabkan 1,82 juta orang kehilangan pekerjaan. Sektor Industri Pengolahan mencatat penyerapan tenaga kerja tertinggi sebesar 0,65 persen poin, sedangkan sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan merosot hingga 1,43 persen poin.
2. Agustus 2022 - 5,86 Persen
Persentase pengangguran turun menjadi 5,86 persen atau menyisakan 8,42 juta orang. Lulusan SMK dan SMA masih mendominasi dengan 9,42 persen dan 8,57 persen. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan bangkit dengan menyerap 1,57 juta tenaga kerja. Periode ini menjadi fase pemulihan ekonomi meskipun 4,15 juta penduduk usia kerja masih merasakan dampak pandemi.
3. Agustus 2023 - 5,32 Persen
Angka pengangguran menyentuh 5,32 persen atau setara 7,86 juta orang. Tingkat pengangguran tertinggi tetap berasal dari lulusan SMK sebesar 9,31 persen dan SMA 8,15 persen. Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum memimpin penyerapan tenaga kerja hingga 1,18 juta orang. Rata-rata upah buruh tercatat Rp3,18 juta, dengan upah tertinggi di sektor Informasi dan Komunikasi senilai Rp5,13 juta dan terendah di sektor Jasa Lainnya sebesar Rp1,87 juta.
4. Agustus 2024 - 4,91 Persen
Pengangguran terus menyusut ke angka 4,91 persen atau sebanyak 7,47 juta orang. Dominasi pengangguran dari lulusan SMK dengan 9,01 persen dan SMA 7,05 persen belum bergeser. Lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan kembali menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 1,31 juta orang. Rata-rata upah buruh naik menjadi Rp3,27 juta per bulan, dipimpin sektor Pertambangan dan Penggalian senilai Rp5,23 juta serta terendah sektor Jasa Lainnya sebesar Rp1,99 juta.
5. Agustus 2025 - 4,85 Persen
Penurunan tipis sebesar 0,06 persen membawa tingkat pengangguran menjadi 4,85 persen atau sebanyak 7,46 juta orang. Lulusan SMK dan SMA kembali menjadi penyumbang utama dengan 8,63 persen dan 6,88 persen. Total pekerja aktif mencapai 146,54 juta orang, dengan sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menyerap 490 ribu tenaga kerja baru. Rata-rata upah buruh berada di kisaran Rp3,33 juta per bulan. ***