
SIAK SRI INDRAPURA, GORIAU.COM - Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Siak telah meninjau lokasi tumpahan minyak yang mencemari aliran sungai Siak di Selat Lalang. Atas tumpahan tersebut, berbagai macam biota laut dan pohon mangrove mati.
"Pencemaran perairan terjadi pada tanggal 26 Februaru lalu. Namun kami baru turun ke lokasi dua hari setelahnya. Sebab, waktu itu kami masih berada di Jakarta," terang Kepala BLH Siak H. Sadikin, S.Sos melalui Kabid Pengawasan dan Pengendalian Syaiful Amar, S.Sos, MSi kepada GoRiau.com, Senin (10/3/2014) siang.
Syaiful mengakui tidak mempunyai sampel pencemaran sungai Siak itu. Pasalnya, saat sampai di lokasi, ia bersama tim tidak menemukan lagi adanya tumpahan minyak mentah. Walau demikian, Syaiful sudah mengumpulkan keterangan dari warga sekitar.
"Kami memang tidak punya sampel, sebab tumpahan minyak mentah sudah dibersihkan oleh PT. Kondur Petroleum atau sekarang namanya EMP," ujar Syaiful.
Meskipun sudah dibersihkan, kata Syaiful, masyarakat mengaku mampu mengumpulkan delapan karung minyak mentah yang membeku di bibir pantai. Minyak mentah tersebut sejenis tir.
Melihat kondisi pencemaran, BLH langsung memanggil PT. EMP . Dari pertemuan dengan anak perusahaan PT. ENRG Tbk (EMP) yang mengelola blok Malacca Strait FSC, kata Syaiful, mereka mengakui tumpahan minyak berasal dari pipa bawah laut milik mereka yang pecah. Pertemuan itu dilakukan pada 3 Maret lalu.
"Mereka bilang, tumpahan itu berasal dari pipa yang bocor. Saat itu, PT. EMP sedang melakukan perbaikan pipa. Katanya ada baut yang lepas dan minyaknya tumpah," jelas Syaiful.
Walau demikian, PT. EMP langsung melakukan pembersihan atas tumpahan minyak tersebut, sesuai dengan UU nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. "Sanksinya juga ada dalam UU tersebut," kata Syaiful.
"Karena sudah dibersihkan, makanya kita lakukan upaya persuasif. Bagaimana, masyarakat sekitar merasakan dampak positif keberadaan PT. EMP," ulas Syaiful. Artinya, BLH Siak tidak akan mengejar sanksi, melainkan bagaimana upaya perbaikan Daerah Aliran Sungai (DAS) Siak.
Sementara itu, Bina Cinta Alam (BCA) menyampaikan laporan kepada BLH Siak terkait banyaknya tanaman mangrove yang mati. Mangrove tersebut ditanam dan dirawat oleh BCA sejak lama. Tarsono Renggo selaku ketua BCA meminta pertanggung jawaban dari PT. EMP. Ia meminta BLH Siak memfasilitasinya.
Menanggapi hal itu, Syaiful mengaku telah membicarakan dengan PT. EMP dan mereka akan bertanggung jawab. "Mereka akan mengganti mangrove yang mati itu," kata Syaiful.
"Tapi, sebelum ganti rugi, tim dari PT. EMP akan turun ke lapangan. Melakukan pengujian betul atau tidaknya penyebab kematian akibat tumpahan minyak," tutur Syaiful.(san)