
SENIN (4/5/2026). Masih pagi, matahari baru saja naik. Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.00 WIB. Tapi Ana (45), sudah memaksa anaknya, Hafiz, untuk cepat-cepat menyelesaikan sarapannya.
Ana tampak terburu-buru. Tak biasanya ia terburu-buru dan grasak-grusuk seperti pagi ini. Batas akhir jam masuk Hafiz, anaknya yang duduk di kelas 3 SD itu baru nanti pukul 07.20 WIB. Masih ada waktu 1 jam kurang lagi bagi mereka untuk berkemas dan melakukan perjalanan ke sekolah.
Namun karena jarak tempuh rumah dan sekolah anaknya lumayan jauh, biasanya ia baru berangkat sekitar pukul 06.45 WIB. Waktu yang pas bagi anaknya sampai ke gerbang sekolahnya di kawasan Kubang.
Namun pagi ini ia memutuskan berangkat lebih pagi. Ia takut anaknya terlambat masuk. Raut wajah Ana tampak cemas. Tak hanya karena takut anaknya telat sekolah, tapi ia juga takut akan mendorong motor bututnya karena kehabisan minyak di tengah jalan.
Sebenarnya selepas Magrib tadi malam ia sudah berusaha ikut mengantre di SPBU dekat tempat tinggalnya demi mendapatkan 2 liter pertalite agar motor bututnya besok pagi bisa dibawa jalan mengantar si buah hati ke sekolah. Namun hampir 1 jam lebih dalam barisan antrean, Ana pun menyerah. Selain lelah, lapar juga menyerangnya. Ia memutuskan keluar antrean panjang di SPBU, dan kembali ke rumah.
Sebelum sampai ke rumah, Ana sempat juga mencoba peruntungannya. Mana tau ia mendapat seliter minyak untuk sekedar bisa mengantar anaknya sekolah pagi ini. Namun hasilnya nihil. Sejumlah Pertamini dan penjual minyak eceran di sekitar tempat tinggalnya tak satu pun yang punya stok.
Malam itu Ana menyerah. Lelah, takut, berbaur menyesakkan hatinya. Ia berharap semoga dengan sisa minyak yang menipis di tangki motor bututnya ia bisa mengantarkan buah hatinya, Hafiz, ke sekolahnya esok pagi (pagi ini, pen).
Begitulah, pagi ini, meski tak tega, Ana memaksa anaknya untuk segera berkemas dan menyelesaikan sarapannya. Sebelum mengantar Hafiz sekolah, ia berencana akan berjuang sekali lagi mendapatkan minyak di SPBU. Kalau pagi mungkin yang antre masih sedikit, pikirnya. Namun apes lagi bagi Ana, sesampai di SPBU, antrean masih sama panjangnya dengan semalam, mengular sampai ke badan jalan.
"Tak mungkin saya antre lama lagi di SPBU Pak. Hari sudah jam tujuh lewat. Kalau antre juga, awak pun tak yakin juga akan dapat minyak dalam waktu setengah jam," kata Ana, yang sempat bercerita dengan GoRiau sambil mengantre pertalite di sebuah unit Pertamini di kawasan Jalan Kubang Raya, Senin (4/5/2026) pagi ini.
"Daripada anak saya tak sekolah hari ini, biarlah Pak harga minyaknya mahal dan naik dari biasanya. Yang penting saya dapat minyak untuk ngantar anak sekolah," tambah Ana.
Pantauan GoRiau, Senin (4/5/2026) pagi, di SPBU Jalan Garuda Sakti dan Kubang, antrean panjang sepeda motor, mobil pribadi, dan truk, memang masih terjadi. Beberapa pengantre yang mungkin terburu-buru, tampak keluar barisan. Seperti juga Ana, yang tidak yakin akan mendapat minyak dalam waktu cepat. Dengan minyak yang menipis di tangki motor bututnya, ia tetap menggeber motor bututnya sambil terus berharap menemukan seliter minyak di tengah jalan menuju sekolah anaknya.
"Alhamdulillah... dapat juga saya minyak di sini (Pertamini). Tak jadilah anak saya telat masuk sekolah Pak. Memang di sini tetap antre juga, tapi tak sepanjang di SPBU-lah. Harganya naik 2 ribu, biasanya 12 ribu seliter. Tapi tadi ada juga Pertamini yang jual 18 ribu seliter. Mahal kali, tak jadi saya beli. Pergi saja saya lagi," cerita Ana.
Ana mengaku tak habis pikir juga dengan pernyataan pihak Pertamina yang mengatakan minyak aman, harga tidak naik, masyarakat jangan panik, stok ditambah 20 persen, armada pengangkut minyak juga ditambah. "Tapi kok sampai pagi ini minyak masih payah kita dapatkan. Apa betul tu apa yang dibilang orang Pertamina tu Pak?," ujar Ana mempertanyakan.Yang pasti, tak cuma Ana. GoRiau, dan mungkin juga banyak masyarakat Riau di luar sana yang juga mempertanyakan; kenapa Riau, daerah yang terkenal kaya minyak ini, sering terjadi kelangkaan minyak. Ke mana larinya minyak itu??? ***