
MALAKA, GORIAU.COM - Usulan pembangunan jembatan kontroversial yang menghubungkan Malaka di Malaysia dan Dumai di Riau sepanjang hampir 50 kilometer, diminati antara lain oleh Bank Ekspor-Impor China.
Studi kelayakan jembatan di atas Selat Malaka yang tersibuk di dunia itu kembali dilakukan. Proyek ini sempat terbengkelai terimbas tsunami finansial 1997-98 yang menimpa Indonesia, Malaysia dan Thailand. Padahal tiga negara ini sudah ditahbbiskan sebagai segitiga pertumbuhan terpenting di Asean, ketika itu.
Kini, pemerintah negara bagian Malaka kembali menunjuk Strait of Malacca Partners (SMP) sebagai perancang dan kontraktor utama jembatan yang diestimasikan menelan duit sebesar 44,3 miliar ringgit, sekitar US$ 14 miliar.
''Proyek ini pasti berjalan, tapi tentu makan waktu dan kita sedang pada tahap studi kelayakan,'' ujar Lim Sue Beng, direktur pelaksana SMP, kepada The Straits Times, koran Singapura, Rabu kemarin (16/10/2013). Masih perlu persetujuan dari pemerintah federal, Kerajaan Malaysia.
Jembatan ini membentang sepanjang 48,7 kilometer dengan tambahan 71,2 kilometer jalan tol yang menguhubungkan Pula Rupat dengan Dumai di Provisnis Riau. Provinsi Riau terkenal sebagai pengahasil minyak sawit, crude palm oil (CPO), termasuk milik perusahaan-perusahaan Malaysia. Inilah yang diincar pihak Malaysia.
Lim bilang bahwa Bank Eksim China, yang menanamkan saham di SMP, sudah menyatakan kesepakatan mendanai 85 persen proyek jembatan ini. Lima belas persen sisanya merupakan partisipasi dari pemerintah Malaysia dan Indonesia serta pihak swasta yang berminat.
Menurut SMP, tarif untuk menyeberangi jembatan ini sekitar US$ 80 satu kali jalan.
Menurut Dr Mohd Hazmi Mohd Rusli, peneliti Universiti Sain Islam Malaysia yang melakuakan penelitian atas usulan pembangunan jembatan, mengatakan perencana pembangunan harus memperlajari dampaknya terhadap lingkungan dan pelayaran.
Dari hitung-hitungan bisnis, manfaat transportasi CPO hanya sedikit saja menyumbang perekonomian. “Malaka dekat dengan Kuala Lumpur dan Singapura. Sedangkan Dumai itu jauh dari kota-kota utama Indonesia. Jembatan ini sesungguhnya belum begitu layak dibangun,” ujarnya.
Ide pembangunan jembatan ini muncul ketika Perdana Menteri Malaysia Dr Mahathir Mohamad, pada tahun 1996 bertemu dengan Presiden Suharto di Kuala Lumpur. Setahun muncul tsunami finansial, dan setelah bertahun-tahun ide membangun jembatan ini tenggelam.
Menteri Besar Malaka Idris Haron mentakan proyek raksasa ini didiskusikan dengan para menteri dari Indonesia dan Thailand di Koh Samui, Thailand, baru-baru ini.
Para mitra Indonesia merasa takut proyek jembatan ini menjadi pesaing Jembatan Selat Sunda sepanjang 29 kilometer yang mengubungkan Jawa dan Sumatera. Jawa adalah pusat produksi barang-barang yang dikirim ke Sumatera melalui Selat Sunda.
Walikota Dumai Khairul Anwar mengatakan, jembatan Selat Malaka ini, kalau jadi dibangun, akan lebih menguntungkan Malaysia dan Indonesia yang buntung. Ia mendesak pemerintah Indonesia mempercepat pembangunan jembatan Selat Sunda.
“Kita harus punya jembatan Selat Sunda dulu, atau paling tidak pembangunannya bersamaan dengan jembatan Selat Malaka, “ ujarnya dalam percakapan telefon dengan The Straits Times.
“Kalau tidak, produk-produk Malaysia yang akan menuai keuntungan di kawasan ini dan produk-produk mereka membanjiri dan memukul produk-produk kita,” ujarnya. Walikota Dumai ini memang cinta produk-produk Indonesia. ***