Harapan ingin menjadi artis lokal dalam bermain film sangat tinggi dalam diri warga Kepulauan Meranti, Riau. Hal itu terbukti dengan banyaknya warga mengikuti casting yang digelar Meranti Movie Maker (3M) bekerjasama dengan SIP Manajemen dari Jakarta. Setidaknya ada lebih kurang 1000-an warga Kota Sagu yang telah mengikuti casting pada pertengahan Januari 2016 di Hotel Grand Meranti Jalan Kartini Selatpanjang, Riau.

Mereka yang ikut casting tidak hanya orang dewasa, bahkan ada anak-anak dan juga orang tua.

Setelah casting itu, tak sedikit pula yang ternanti-nanti kapan masanya diajak shooting oleh produser SIP Manajemen Jakarta Andi Rivani dan istrinya Yulia, serta beberapa kru yang sebelumnya personil Euforia Band di bawah naungan Andi Rivani.

Tapi, seiring waktu berjalan, satu persatu pengurus inti dari Meranti Movie Maker mengundurkan diri.

Sesuai update status dari Andi Sip di wall facebook Eko Priyo No Coment, Ratna Juwita Sari Lurah Selatpanjang Barat, yang juga merupakan Ketua Meranti Movie Maker mengundurkan diri dengan alasan Diklat di Bukit Tinggi. Pasca ditinggalkan Ratna Juwita Sari, posisi Ketua Meranti Movie Maker pernah ingin diserahkan ke Ismail Arsyad yang merupakan Sekretaris Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kepulauan Meranti. Namun, dengan alasan sibuk mengurus organisasi, sanggar, komunitas yang Ia pimpin. Didik Sadewo pun jarang terlihat bergabung dengan Andi cs, walau biasanya mereka terlihat sangat akrab.

Di samping itu, beredar pula kabar bahwa memang di dalam kepengurusan Meranti Movie Maker sudah kacau dan memang tidak bisa dipertahankan antara satu sama yang lain. Sehingga, terjadi perpecahan. Singkat cerita Meranti Movie Maker dinakhodai Andi Rivani.

Bersama Istri dan kolega lainnya, Andi meneruskan pembuatan film Panggil Aku Laila, dengan mengambil tempat shooting di beberapa daerah Meranti.

Anehnya, dalam pembuatan film itu, tidak terlihat para pemain menghapal dialog. Dialog dalam film hanya arahan yang diberikan Andi maupun istrinya Yulia. Film itu pun digarap hingga ke penghujung cerita.

Selain itu, keanehan lain terlihat jelas. Para pemain film tidak banyak. Hanya sebagian kecil dari ribuan warga Meranti yang ikut casting. Entah apa maksud pasutri yang mengaku seniman dari Ibukota Jakarta itu dengan tidak mengikut sertakan ratusan warga yang lolos casting.

Sementara di tempat lain, anak-anak Meranti yang telah di-casting sangat berharap dipanggil untuk beradu akting dalam film garapan Meranti Movie Maker bekerjasama dengan SIP Manajemen Jakarta itu.

Harapan dipanggil shooting itu ditunjukkan langsung salah seorang anak kecil usia sekolah dasar. Sebut saja namanya Bunga.

Bunga ketika tidak sengaja ditemui GoRiau di salah satu rumah makan Jalan Merdeka Selatpanjang mengatakan bahwa dirinya ikut bermain dalam film Panggil Aku Laila. Dengan polos, gadis kecil asal Palembang itu pun menceritakan niatnya hendak bermain film.

"Om, aku ikut bermain film lho," ujar Bunga sambil bermain Samsung Galaxy Tab kepada GoRiau.

"Kamu main film yang mana,?" tanya GoRiau kepada Bunga.

"Itu lho Om, film sama Om Andi (Andi Rivani, red)," kata Bunga dengan nada polos.

"Oowh, film nya sudah selesai shooting," jawab GoRiau sambil menunjukkan salah satu adegan penangkapan Uyung (penjahat, red) dalam film Panggil Aku Laila yang melibatkan pihak kepolisian Meranti.

Melihat adegan itu, memang terlihat raut wajah agak kecewa. Namun, Bunga bisa berdalih bahwa giliran anak-anak belum shooting.

"Anak-anak nanti shootingnya Om," kata Bunga lagi.

Akhirnya GoRiau berdiam diri agar si Bunga tak menjadi sedih beneran.

Dalam film garapan Andi CS itu, memang ada dua anak-anak yang mendapat porsi lebih dalam berakting. Mereka tak lain adalah sepasang anak kecil Gyang dan Yneth, yang tak lain merupakan anak kandung Andi Rivani dengan Yulia Rivani.

Miris memang, di saat ribuan orang berharap, namun diam-diam film Panggil Aku Laila berjalan hingga penghujung cerita.

Ketika shooting hampir rampung, permasalahan timbul.

Entah angin apa yang bertiup, sehingga pasutri yang mengaku seniman dari Jakarta itu mengunggah status di Media Sosial dengan bahasa menyudutkan Bupati Kepulauan Meranti Drs H Irwan MSi. Bupati Kepulauan Meranti dituduh telah menelantarkan Andi sekeluarga serta anak-anak Band nya selama empat bulan yang berujung pengusiran dengan sangat kasar.

Status di media sosial yang tanpa unsur periksa menuduh Bupati Kepulauan Meranti itu pula merupakan awal permasalahan timbul. Akibat status itu, Andi Rivani sekeluarga serta tiga anak band nya terpaksa harus meninggalkan Kota Sagu agar tidak terjadi konflik dengan masyarakat Meranti. Atas saran dari Kapolres Kepulauan Meranti AKBP Zahwani Pandra Arsyad SH MSi, akhirnya pasutri mengaku seniman itu pun kembali ke Jakarta.

Bukannya masalah itu hilang. Malah timbul masalah baru, yaitu nasib ribuan warga Meranti yang kemarin ikut casting.

Apakah mau dikatakan bahwa film telah selesai digarap Andi Rivani CS.? Rasanya tidak mungkin.

Apakah mau dikatakan bahwa semuanya tidak lulus casting.? Pun tidak mungkin.

Lalu, apakah pengurus Meranti Movie Maker mau melepaskan tanggungjawab begitu saja.? Ini juga tidak mungkin dan jangan sekali-kali terjadi. Sebab, jika itu terjadi, maka ribuan hati warga Meranti pasti tergores.

Berdasarkan cerita beberapa orang pelaku seni di Meranti, masalah ingin menyelamatkan ribuan warga Meranti yang kemarin ikut casting telah pula dibahas. Mereka akan duduk bersama pengurus Meranti Movie Maker Ratna Juwita Sari, Ismail Arsyad, Didik Sadewo, dr Misri, Eko Priyo dan beberapa lain yang kemarin terlibat untuk mencarikan solusi seperti apa jalan penyelesaiannya.

Hal itu sesuai pula dengan tekad Ratna Juwita Sari yang mengatakan bahwa Meranti Movie Maker akan selalu ada dan eksis. Sebab, pengurus Meranti Movie Maker merupakan anak watan Kepulauan Meranti.

Ya, sepertinya jalan terbaik adalah menyelamatkan harapan ribuan warga Meranti yang kemarin ikut casting dan ikut menyumbangkan sejumlah uang dalam penggarapan Film Panggil Aku Laila. Biarlah pengurus Meranti Movie Maker kemarin sempat mati suri, namun jangan pula niat menggarap film dengan melibatkan banyak warga Meranti dibatalkan begitu saja. Semoga hal yang paling ditakutkan tidak terjadi, dan dalam waktu dengan Meranti Movie Maker bangkit dengan penggarapan film-nya. Amiin... ***