SELATPANJANG - Warga Kabupaten Kepulauan Meranti meluncurkan petisi mendesak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto untuk mengambil alih perbaikan Jembatan Panglima Sampul dan Jembatan Perawang. Kondisi keuangan daerah yang terus mengalami defisit membuat perbaikan dua infrastruktur vital tersebut mustahil dilakukan dalam waktu dekat.

Dana Lokal Tidak Sanggup

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kepulauan Meranti saat ini sedang tidak sehat. Hal ini menjadi tembok penghalang terbesar bagi pemerintah daerah untuk memulihkan akses transportasi masyarakat.

Sekretaris Petisi, Dedi Kurniawan memastikan bahwa mengandalkan dana lokal adalah sebuah kemustahilan di tengah krisis anggaran.

"Dengan kondisi anggaran daerah Meranti yang sedang mengalami defisit, sangat sulit mengharapkan pembangunan atau perbaikan jembatan ini bisa terealisasi dalam waktu dekat menggunakan dana lokal," jelas Dedi, Selasa (16/6/2026).

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa petisi ini menjadi jalur komunikasi darurat agar pemerintah pusat melihat realita penderitaan warga.

GoRiau Jembatan Selat Akar yang roboh
Jembatan Selat Akar yang roboh (foto: ist)

"Melalui petisi ini, kita ingin menjelaskan secara gamblang kepada Presiden mengenai kondisi nyata di lapangan. Masyarakat Meranti semakin hari semakin kesulitan akibat terputusnya akses penting ini," tambahnya.

Ancaman Kelumpuhan Ekonomi

Kerusakan Jembatan Panglima Sampul dan Jembatan Perawang bukan sekadar masalah infrastruktur biasa. Dua jembatan ini merupakan jalur utama pergerakan ekonomi masyarakat tempatan.

Wakil Koordinator Petisi, Al Azhar, SH MH menyoroti dampak sosial yang semakin mendalam sejak akses warga terputus.

"Jembatan Panglima Sampul dan Jembatan Perawang adalah urat nadi kami. Ini adalah akses utama warga untuk beraktivitas, membawa hasil bumi, dan menggerakkan roda ekonomi daerah. Kami mengetuk pintu hati Presiden Prabowo agar melihat langsung jeritan urat nadi Meranti yang saat ini lumpuh," tegas Al Azhar.

Harapan pada Tanda Tangan Warga

Melihat besarnya tantangan, panitia penggalangan petisi mulai menyebarluaskan posko dukungan secara fisik maupun digital. Kampanye ini membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat agar gaungnya terdengar hingga ke pusat pemerintahan.

Beberapa sasaran utama dari pengumpulan tanda tangan ini meliputi:

  • * Bukti Keresahan Murni: Tanda tangan massal menunjukkan bahwa tuntutan ini berasal dari rakyat bawah yang terdampak langsung.
  • * Kekuatan Intervensi Pusat: Dukungan besar menjadi dasar kuat bagi pemerintah pusat untuk segera menggelontorkan dana perbaikan darurat.
  • * Solidaritas Perantau: Warga Meranti di luar daerah bisa ikut menyumbangkan suaranya secara digital demi kampung halaman.

Wakil Sekretaris Petisi, Sri Kemuning, SH mengajak seluruh warga untuk merapatkan barisan demi memulihkan konektivitas di wilayah pesisir tersebut.

"Kami sangat berharap seluruh masyarakat Meranti, baik yang berada di kampung halaman maupun di perantauan, dapat berperan aktif. Berikan tanda tangan Anda. Satu tanda tangan adalah satu harapan," urai Sri Kemuning.

"Dukungan ini adalah modal kuat kita agar pembangunan jembatan bisa segera disegerakan oleh pemerintah pusat," ungkapnya. ***