
PEKANBARU – Penularan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) di Provinsi Riau kini menjadi ancaman serius bagi kelompok usia kerja. Hingga pengujung tahun 2025, persentase terbesar atau sebanyak 77 persen dari total kasus infeksi penyakit ini didominasi oleh rentang usia produktif antara 25 hingga 49 tahun.
Tingginya penularan di kalangan pekerja aktif ini berpotensi memberikan hantaman keras terhadap tatanan sosial maupun roda ekonomi keluarga. Di luar kelompok umur tersebut, virus ini juga menyasar kelompok pemuda usia 20 hingga 24 tahun dengan porsi 10 persen, disusul kelompok lansia di atas 50 tahun sebesar 9 persen, sementara sisanya menjangkiti anak-anak dan remaja.
"Mayoritas kasus ada di usia produktif. Ini tentu menjadi alarm bagi kita semua, karena kelompok ini adalah tulang punggung keluarga," sebut Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Riau, dr Wildan Asfan Hasibuan, Senin (6/4/2026).
Fakta lapangan sepanjang Januari hingga Desember 2025 turut menguak tingginya ketimpangan risiko berbasis gender. Laki-laki mendominasi mutlak dengan menyumbang 88 persen dari total penularan, sementara penderita perempuan hanya menyentuh angka 12 persen.
"Faktor perilaku masih menjadi tantangan utama. Karena itu edukasi harus terus diperkuat, terutama kepada kelompok yang berisiko," paparnya.
Secara kumulatif, total penderita AIDS di Bumi Lancang Kuning telah menyentuh 4.480 orang. Ibu kota provinsi, Pekanbaru, menempati urutan puncak sebaran dengan 2.746 kasus. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Indragiri Hilir dengan 308 kasus dan Kota Dumai sebanyak 300 kasus. Sebaliknya, wilayah dengan angka deteksi lebih rendah tercatat di Kampar dengan 49 kasus dan Indragiri Hulu sebanyak 34 kasus.
Melonjaknya temuan di kawasan perkotaan ditengarai bukan semata-mata karena padatnya mobilitas penduduk. Akses layanan kesehatan dan fasilitas deteksi dini yang jauh lebih memadai di kota mempermudah petugas medis dalam melacak warga yang terinfeksi.
"Yang paling penting itu pencegahan dan deteksi dini. Jangan takut untuk tes HIV, karena semakin cepat diketahui, pengobatan bisa segera dilakukan dan kualitas hidup tetap terjaga," urai Wildan.
Selain menggesa program pemeriksaan dini, kampanye penghapusan stigma negatif terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHIV) di tengah masyarakat terus digencarkan agar penderita berani mengakses pengobatan medis.
"ODHIV itu bukan untuk dijauhi. Mereka bisa hidup normal dan produktif selama menjalani pengobatan dengan baik. Dukungan dari keluarga dan masyarakat sangat penting," pungkasnya. ***