COVID-19 adalah penyakit saluran napas yang disebabkan oleh virus corona, yang baru ditemukan di Wuhan, China pada akhir tahun 2019, tepatnya Desember 2019. Sehingga penyakitnya disebut Coronavirus Disease 19 (Covid-19). Kumannya sendiri awalnya disebut dengan 2019 Novel Coronavirus atau nama lainnya adalah SARS Coronavirus 2, penyakit yang disebabkannya adalah Covid-19.

Kuman virus ini menyerang saluran nafas, saluran nafas manusia secara sederhana dapat dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama adalah salurannya, mulai dari hidung sampai percabangannya di dalam paru. Bagian kedua adalah paru-parunya sendiri.

Saat kita bernafas, udara nafas masuk kedalam paru lewat salurannya. Jadi salurannya hanya tempat mengalirnya udara, sedangkan proses perpindahan oksigen atau difusi itu terjadinya di paru-paru.

Penyakit Covid-19 ini bisa terkena di salurannya bisa juga di parunya. Jika terkena di salurannya, ini sama dengan penyakit yang sehari-hari kita hadapi yakni batuk pilek biasa. Bahasa Indonesianya selesma, sedangkan bahasa Inggrisnya adalah common cold. Jadi batuk pilek yang biasa itu bisa disebabkan oleh virus corona 2019.

Sebenarnya sehari-hari kita batuk pilek biasa itu juga disebabkan sebagian oleh virus corona, tetapi virus corona yang lama bukan yang baru ini (Novel Coronavirus 2019).

Kalau terkena disalurannya biasanya ringan tidak menjadi masalah dan tidak berbahaya.  Yang menjadi masalah adalah kalau virusnya ini menyerang selain salurannya yakni menyerang paru-paru. Kalau mengenai paru-paru maka terjadi radang paru atau istilah medisnya pneumonia.

Pneumonia ini derajatnya bermacam-macam tergantung luas atau tidaknya bagian paru yang terkena. Kalau paru yang terkena radang oleh virus ini cukup luas, bisa menyebabkan kematian. Tetapi perlu ditekankan bahwa sebagian besar sebenarnya virus ini hanya mengenai saluran napas, dan hanya menyebabkan gejala selesma yang tidak akan membahayakan.

Pada penyakit yang disebabkan oleh virus, biasanya anak-anak berdampak lebih berat. Dalam arti akan lebih rentan dan lebih mudah tertular dan kalau terkena biasanya penyakitnya lebih berat jika terkena virus saluran napas yang yang lain.

Tetapi dari data awal yang didapat di China, gambarannya justru cukup melegakan karena kebalikan dari biasanya tadi. Dari data awal yang didapat di China dari sekitar 4.000 pasien yang terkonfirmasi infeksi virus Covid-19 yang terkena anak-anak hanya sekitar 15 anak untuk anak usia <10 tahun, yang lainnya adalah pasien-pasien dewasa.

Jadi angka penularan terhadap anak-anak sangat rendah. Lalu anak-anak yang mengalami penyakit ini sebanyak 2/3 hanya kena salurannya napas, yaitu selesma. Hanya satu diantara empat pasien anak yang mengalami pneumonia paru. Dan bahkan ada anak-anak yang terkonfirmasi ketika diperiksa virusnya ditemukan terinfeksi Covid-19  tetapi tidak ada gejala. Jadi data umum yang di pelajari dari China untuk angka kejadian Covid-19  pada populasi anak dibawah 10 tahun sangat kecil. Angka kejadian Covid-19 pada anak menurut laporan Wu, dkk pada tahun 2020 pada kelompok rentang usia 10-19 tahun terdapat 549/72.314 (1%) kasus, sedangkan kelompok usia <10 tahun sebanyak 416/72.314 (0,9%) kasus dan menjadikan anak merupakan kelompok dengan angka kejadian Covid-19 paling rendah.

Walaupun demikian orang tua tetap harus waspada terhadap anaknya. Selama masa libur sekolah ditujukan untuk anak-anak agar tetap di rumah. Berkegiatan di rumah dan melakukan segala tindakan pencegahan penular Covid-19. Jika terdapat anak-anak anda sehat tetapi memiliki riwayat perjalanan dalam 14 hari terakhir ke daerah dengan Covid-19. Lakukan monitoring dan pemantauan mandiri di rumah selama 14 hari tinggal di rumah dan lakukan isolasi mandiri. Kenali gejala demam, batuk, pilek dan rasa tidak enak badan. Bila ada, segera periksa diri ke dokter. Imunisasi tetap harus diupayakan lengkap sesuai usia. Tinggal di rumah, jaga kesehatan, cuci tangan, lakukan etika batuk dan tetap lakukan aktivitas fisik sesuai usia.

Selama pandemi Covid-19  tunda bawa anak anda ke rumah sakit kecuali gawat darurat seperti sesak nafas atau biru pada bibir, diare terus-menerus atau muntah-muntah disertai lemas (dehidrasi), nyeri perut hebat, perdarahan terus-menerus, kejang atau penurunan kesadaran, demam tinggi 3 hari atau lebih, kecelakaan, keracunan menelan benda asing dan digigit hewan berbisa.

Covid-19 telah mengubah rutinitas kerja, rumah, dan sekolah sehari-hari. Hal ini pasti sulit untuk anak-anak. Maka mulailah membuat rutinitas baru yang simpel dan fleksible di rumah. Hal ini dapat membantu anak-anak merasa lebih aman dan berperilaku lebih baik. Jadwalkan olahraga setiap hari bisa membantu mengatasi stress. Buatlah kegiatan mencuci tangan dan menjaga higienitas menjadi menyenangkan seperti buat lagu menyenangkan, berikan poin setiap mereka melakukan cuci tangan dengan baik dan benar. Ajari anak anda mengenai pembatasan fisik dan dengarkan pendapat meraka akan hal demikian. Sebelum tidur, luangkan waktu sebentar untuk bercerita tentang hari ini. Tanyakan kepada mereka hal baik dan menyenangkan apa yang telah dilakukan hari ini. Berikan pujian untuk anak anda dan juga diri sendiri bahwa “Kita telah melakukan hal yang hebat hari ini”. Informasi ini mudah-mudahan bisa mengurangi kecemasan pada orang tua. Semoga kita semua tetap sehat dan pandemi ini segera berakhir. ***

Penulis adalah dokter, tinggal di Bangkinang.