
PEKANBARU – Truk bak terbuka yang ditumpangi puluhan demonstran dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pelalawan (AMMP) perlahan menjauh dari Jalan Jendral Sudirman, Pekanbaru, Rabu (18/6/2025). Di atasnya, para peserta aksi bersorak dan mengepalkan tangan dengan wajah penuh kemenangan. Namun di belakang, jejak tak sedap tertinggal.
Mereka menuntut pemerintah memfasilitasi ruang diskusi dengan masyarakat. Pemerintah Provinsi Riau menyatakan butuh waktu satu bulan untuk menindaklanjuti tuntutan tersebut.
Namun peristiwa itu disertai ironi. Roda-roda truk mereka melindas sampah yang berserakan: botol plastik, styrofoam, dan kemasan makanan. Kawasan sekitar Tugu Zapin yang sebelumnya tertata, kini dipenuhi sisa demonstrasi yang ditinggalkan begitu saja.
Pantauan GoRiau.com sekitar pukul 13.15 WIB menunjukkan kondisi memprihatinkan. Sampah menyebar tanpa terkumpul di satu titik. Tanaman penghias sekitar tugu tak luput dari dampak, rusak dan patah akibat diinjak.

Akademisi dan penggiat lingkungan, Robi Armilus sangat menyayangkan ketidakpedulian peserta aksi. "Mereka memperjuangkan hak sendiri, tapi lupa hak lingkungan. Ini cerminan rendahnya tanggung jawab sosial," ujarnya.
Robi menyebut fenomena ini bisa dijelaskan lewat teori efervescensi kolektif à la Émile Durkheim, dimana dalam aksi massa, rasionalitas individu melemah. Namun, katanya, itu bukan alasan untuk meninggalkan sampah. "Ada anggapan membersihkan adalah tugas petugas kebersihan. Ini bentuk kelalaian," jelasnya.
Padahal, peringatan telah disampaikan. Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, dua kali menekankan pentingnya menjaga taman dan kebersihan, baik dalam diskusi di Ruang Kenanga maupun saat menemui massa aksi langsung.
"Jangan injak tanaman, mereka juga makhluk hidup. Aspirasi tak perlu disertai perusakan," ujarnya kepada perwakilan AMMP.
Peringatan juga disuarakan Koordinator Lapangan AMMP usai aksi. Tapi jejak yang ditinggalkan berbicara lebih lantang: sampah, kerusakan, dan ketidakpedulian. ***