PESONANYA tetap tiada tara. Wajahnya selalu ceria. Masih seperti dulu, langkahnya tetap tegap. Bedanya, sekarang tak lagi memakai lencana yang menggantung di saku kemejanya. Ia juga tidak lagi berkantor di gedung lantai sembilan di poros Jalan Sudirman, tapi di lembaga pemasyarakatan Kulim nun jauh dari hingar bingar kota.
Itulah sosok Gubernur Riau Rusli Zainal, yang dijadwalkan Rabu (6/11) ini akan menghadapi sidang perkara korupsi di Pengadilan Tipikor Pekanbaru. RZ begitu masyarakat Riau lebih senang memanggilnya. Dua kata menggambarkan keakraban antara pemimpin dan rakyatnya.
Usai lebaran idul adha lalu, saya dan sejumlah rekan dari DPRD Riau bersama Sekretaris Dewan (Sekwan) membezuk RZ di lembaga pemasyarakatan Kulim. Meski di penjara, ia tetap memperlihatkan komitmennya untuk memajukan Riau yang tak lekang dari balik terali jeruji.
Semangatnya tetap menyala. Tak ada kata mengeluh. Bahasa tubuh dan kata-katanya masih sangat berwibawa.
Saya memahami situasi saat ini, tapi jangan sampai pelaksanaan pembangunan stagnan, harus ada kemajuan. Rakyat sangat berharap realisai dari program dan kegiatan yang telah disahkan pada buku APBD. Itu kata sakti RZ saat berbincang dengan kami terkait dengan masih minimnya realisasi fisik dan keuangan APBD 2013.
Faktanya tak dapat dipungkiri. Waktu efektif kurang dari dua bulan lagi jelang tutup buku tahun anggaran 2013. Tapi realisasinya masih dibawah 25 persen. Itulah hasil pembahasan di Badan Anggaran (Banggar) dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAD) .
RZ terlihat geleng-geleng kepala menyikapi kondisi yang terjadi di depan matanya. Jelas RZ sangat terpukul dan prihatin dengan kondisi yang terjadi pada akhir masa jabatanya.
Kilas balik kebelakang. Lemah semangat, kata yang agaknya tepat untuk menggambarkan suasana kebatinan yang menimpa sejumlah anggota lembaga DPRD Provinsi Riau saat itu. Puncak lesu itu terekam jelas pada Jumat 13 Juli, tatkala dilaksanakan acara rapat paripurna dengan agenda penyampaian rangkaian kegiatan menuju pembahasan Raperda APBD-P 2012.
Saat ketua DPRD mengetuk palu skorsing sidang, ruang rapat paripurna yang biasanya riuh rendah mendadak sunyi sepi mencekam. Ruangan luas itu seakan tersaput kabut kesedihan. Anggota DPRD yang hadir malam itu saling berbisik disertai mimik kaget dan sedih seakan mati suri.
Luruh dan wajah pucat pasi menyentuh relung batin yang dalam. Ini bermula dengan masuknya pesan singkat tentang ditetapkannya tujuh rekan anggota dewan menjadi tersangka. Saya beserta kawan - kawan yang kebetulan sedang menunggu rapat belum percaya dengan kabar itu.
Perlahan, kebetulan di depan meja ada ipad, langsung saya buka dan ternyata benar. Tercatat baru 10 menit kabar tersebut menjadi pemberitaan media online. Berulang kali saya buka dan sebagian kawan sibuk menanyakan kebenaran berita tersebut melalui telepon.
Suasana rapat paripurna yang penuh semangat berubah menjadi jeritan batin dan pilu kesedihan yang tiada tara. Saya pribadi turut larut dalam duka namun tercekat tak dapat bicara. Spontanitas satu persatu meninggalkan ruang paripurna dengan langkah gontai.
Di pundak terasa berat memikul beban antara tanggungjawab dan perasaan yang ditakdirkan Tuhan sebagai manusia yang lemah.
Jika bukan karena menjabat sebagai anggota DPRD yang punya kedudukan tugas dan fungsi yang harus disangga, saya sudah lari duluan dari gelanggang menahan tangis sebagai rasa solidaritas atas musibah yang menimpa sahabat sahabat seperjuangan.
Akhirnya Ketua DPRD, pimpinan fraksi, juga Sekdaprov malam itu menyerah kalah untuk melanjutkan rapat paripurna. Sebagai manusia yang lemah kami sepakat tak sanggup bukan hanya untuk rasa solidaritas tapi karena badan, pikiran kami semua malam itu "lumpuh".
Inilah catatan perjalanan lembaga DPRD Riau setelah bertekad dan berdaya upaya untuk kesuksesan pelaksanaan hajatan milik nasional bernama PON itu. Torehan tinta emas untuk kebesaran nama Riau memberikan suguhan terbaik untuk tamu-tamu se Indonesia ternyatajalannnya tidak mulus dan tak semulia yang kita niatkan dan berikan.
KPK awalnya menangkap 3 rekan dewan, Faisal, M Dunir dan Taufan. Praktis, ibarat tubuh terasa ada bagian yang hilang.
Kemudian menyusul 7 orang lagi. Ibarat perahu lembaga DPRD sudah oleng entah kuat atau pecah jika dipaksakan berlayar kala itu. Karena apapun keputusan DPRD dihasilkan melalui mekanisme rapat Paripurna butuh korum untuk memenuhi mekanismenya.
Pemikiran dan hitungan logika memang hasilnya masih gampang. Jumlah anggota DPRD 55 orang di kurangi 10 masih 45 orang. Meskipun ada tata tertib yang mengatur jika tak korum bisa ditempuh dengan mekanisme yang telah diatur. Namun beban batin yang disandang lebih banyak mengalahkan akal sehat.
Bayang-bayang akan sulit korum dalam rapat paripurna juga terus menghantui sehingga tidak akan bisa menghasilkan keputusan. Jika situasi dan kondisi itu semakin memburuk maka keberlangsungan program dan pembangunan terutama keberlangsungan PON suram dan seram.
Meski dilanda kegamangan namun kedudukan, tugas dan fungsi sebagai anggota DPRD saya yakin akan dipertaruhkan. Memang kenyataan ini sangat memilukan namun tak seharusnya perkara ini menyurutkan apalagi menghentikan langkah untuk berbuat yang terbaik untuk negeri tercinta Riau.
Saya sebagai warga Riau salut dengan Gubernur Riau Rusli Zainal kala itu. Ketika itu beliau belum di tahan. Tapi sudah menyandang status tersangka. Meski sudah terbelit perkara dan sudah duluan di cekal KPK namun sebagai pemimpin selalu tampil dengan semangat menyala hingga akhirnya PON sukses digelar..
Tanpa bermaksud mengesampingkan perkara yang membelit, keberadaan Stadium Utama Riau memang patut dibanggakan. Bahkan perhelatan internasional sudah pernah dihelat di sini saat laga AFC. Tepuk tangan riuh bergema dari sini yang mampu mencuri jutaaan pasang mata.
Multiplier effect dari PON juga cukup dirasakan. Lapangan tanding dan asrama terbangun megah. Bandara, jalan raya hingga perhotelan menjadi kinclong. Ini bukti Riau berupaya menjadi tuan rumah yang ramah dan megah. Dan tercatat dalam sejarah Riau sukses menggelar PON.
Di balik itu, juga kita sadari ternyata untuk berbuat yang terbaik itu ada sahabat sahabat kita eksekutif dan legislatif yang dengan tabah dan pasrah menghadapi proses hukum. Mereka ada yang sudah berada di rutan, penjara dan sebagian lagi menunggu antrean. Kini tidak lagibicara ini salah siapa, tapi biarlah proses hukum berjalan diatas relnya.
Inilah peristiwa yang terjadi di bumi Riau antara pengorbanan dan taruhan. Dibalik kejayaan menyimpan kelemahan. Dibalik kemegahan ada ketidakberdayaan. Tak sepatutnya kita hanya pandai menghujat dan menyalahkan namun akan bijak kalau kita sempurnakan dengan menutupi kekurangan dan kelemahan.
Di balik semua peristiwa tentu ada hikmahnya. Pembangunan di Riau telah bergeliat dengan hebatnya. PON di Riau juga telah sukses dan berjaya. Jangan memandang manusia hanya dari sisi lebihnya saja, tapi juga dari sisi lemah dan kekuranganya karena itulah kesempurnaanmanusia Semoga kita semua tabah dan tawakal menghadapi musibah dan cobaan ini, amin. **** Penulis adalah Ketua Komisi D DPRD Riau


