SALAH satu penyakit yang bisa mengakibatkan kebutaan adalah glaukoma. Penyakit ini sering muncul tanpa disertai gejala dan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada saraf optik. Untungnya, ilmuwan menciptakan sebuah tongkat listrik yang dapat mengobati penyakit ini hanya dalam waktu 15 menit.

Glaukoma terjadi ketika cairan yang berada di dalam bola mata meningkat tekanannya. Akibat penambahan tekanan dari waktu ke waktu, saraf optik yang terletak di belakang mata dan bertanggung jawab mengirimkan sinyal ke otak jadi tertekan. Lama kelamaan, saraf ini pun rusak.

Kehilangan penglihatan dimulai pada visi perifer, artinya penderita seringkali tidak mengetahui ada masalah sampai penglihatannya memburuk dan terjadi kerusakan permanen. Untuk mengobatinya, diperlukan operasi selama 1 jam dengan pembiusan lokal untuk membedah mata.

Dalam operasi konvensional atau disebut trabeculectomy, ahli bedah membuat lubang di mata untuk membuat saluran yang memungkinkan cairan pada bola mata mengalir. Baru-baru ini, peneliti dapat mengobati penyakit ini hanya memakan waktu 15 menit, namun masih membutuhkan pembiusan lokal.

Peneliti menggunakan prosedur baru dibantu sebuah sebuah tongkat listrik. Prosedur baru ini disebut trabectome. Caranya, dokter akan menyisipkan tongkat panjang ke dalam mata yang terganggu, lalu listrik akan dialirkan untuk menghasilkan panas.

Panas yang dihasilkan akan membakar bagian yang rusak atau menyumbat aliran cairan bola mata. Alat ini juga sekaligus mengisap sisa-sisa bagian yang telah dihancurkan. Metode ini dikenalkan oleh seorang ahli bedah mata asal Inggris bernama Jonathan Rossiter.

''Prosedur standar memakan waktu 3 kali lebih lama dan itu tidak termasuk waktu yang dibutuhkan untuk pemberian anastesi. Dengan operasi baru, ketidaknyamanannya berkurang, risiko infeksi juga dan hanya perlu beberapa kunjungan untuk tindak lanjut,'' kata Rossiter seperti dilansir Daily Mail, Senin (8/4/2013).

Di Inggris, hanya ada 2 rumah sakit yang menggunakan teknik ini, salah satunya adalah Musgrove Park Hospital di Taunton, Somerset. Namun Rossiter menerangkan bahwa kini metode ini mulai banyak dilakukan di Eropa dan AS. Ia yakin terapi ini dapat mengganti terapi konvensional.

Jika menggunakan operasi konvensional, pasien masih perlu menemui dokter 6 - 7 kali setelah prosedur. Hal ini akan membuat pasien tidak nyaman, apalagi jika jarak dengan dokternya jauh. Banyak juga ditemui kasus di mana pasien malah mengalami jaringan parut yang bisa memicu kebutaan.

Bahkan, sekitar setengah dari pasien yang mencoba operasi konvensional masih mengalami penimbunan tekanan dalam bola mata pemicu glaukoma. Terkadang dokter harus memasukkan sepotong pipa plastik agar saluran dari bola mata tetap terbuka secara permanen agar cairan bisa keluar.

Dengan teknik terbaru ini, Rossiter menjamin efek samping yang dihasilkan lebih sedikit. Bahkan ia mengatakan bahwa operasi baru ini memungkinkan ahli bedah untuk menghilangkan katarak sekaligus, sama seperti ketika mengobati glaukoma.

''Banyak pasien berusia lebih dari 70 tahun memiliki katarak serta glaukoma. Jadi ini bisa membunuh 2 burung sekaligus,'' kata Rossiter.(dtc)