BANGKOK, GORIAU.COM - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mendesak Thailand melindungi 200 pencari suaka kaum Muslim Uighur, yang ditakutkan para aktivis bakal dideportasi ke Beijing.
Polisi Thailand menemukan mereka di wilayah pedalaman Thailand selatan. Para pencari suaka yang menggunakan bahasa Turki itu berasal dari provinsi barat laut China, Xinjiang, tulis koran The Nation, Sabtu (15/3/2014).“Kita mendesak pemerintah Thailand melindungi mereka pencari suaka sepenuhnya, dan kebutuhan-kebutuhan kemanusiaan mereka dipenuhi,” ujar wakil wanita juru bicara Departemen Luar Negeri AS Marie Harf kepada wartawan.Dalam laporan terkini hak-hak asasi manusia AS menyebut bahwa China melakukan “represi resmi yang kejam” terhadap kaum Uighur di Xinjiang, termasuk menekan kebebasan bicara dan beragama mereka.Xinjiang kerap dilanda bentrok kekerasan dan para pejabat China menyalahkan kaum separatis Uighur atas pembunuhan massal dengan menggunakan golok di stasiun kereta api Kunming pada 1 Maret. Sebanyak 29 orang tewas ditebas golok dan 143 orang lainnya luka-luka.China juga menekan Kamboja, Malaysia dan Pakistan agar mendeportasi pencari suaka Muslim Uighur. Thailand yang memiliki hubungan mesra dengan China juga ditakutkan bakal mendeportasi mereka.Badan pengungsi PBB mengkritik Malaysia yang tega mendeportasi enam orang Uighur ke China pada Desember lalu. UNHCR, badan PBB yang menangani pengungsi, menyebut para pengungsi Uighur itu sudah memiliki status pengungsi namun Malaysia tetap mendeportasi mereka.Human Rights Watch (HRW) mencatat, Thailand adalah salah satu negara yang menanda tangani Konvesi PBB mengenai pengungsi yang melarang banyak negara mengirimkan pengungsi ke tempat-tempat yang bakal mendera mereka.Jika mereka dideportasi ke China, kata HRW, mereka akan terancam dianiaya. Menurt HRW, pengungsi Uighur itu harus diproses sesuai dengan klaim mereka, bukan sesuai kemauan Beijing.Asosiasi Uighur Amerika, yang bermarkas di Washington, tentu khawatir dengan nasib kaum Uighur di Thailand. Mereka minta agar pemerintah Thailand berkoordinasi dengan UNHCR.Kaum Uighur di Thailand jangan dijadikan batu ujian dalam hubungan Thailand – China, tutur Alim Seytoff, presiden Asosiasi Uighur Amerika.Menurut Radio Free Asia, departemen siaran bahasa Uighur, mengutip para kerabat pengungsi Uighur yang bilang bahwa pencari suaka itu berpura-pura seolah orang Turki karena takut dideportasi ke China kalau pemerintah Thailand tahu mereka berkewarga negaraan China.Thailand kerap menjadi tempat transit penyelundupan manusia. Kaum Rohingya datang dari Myanmar pun mampir di Thailand sebelum mencari suaka ke Malaysia beberapa tahun belakangan.Para pejabat AS “mendorong Thailand melakukan investigasi menyeluruh jika dianggap terjadi penyelundupan manusia, termasuk dalam banyak kasus dugaan keterlibatan aparat pemerintah Thailand, dan menyeret pelaku penyelundupan manusia ke pengadilan,” tutur Harf.***

