PEKANBARU, GORIAU.COM - Setelah melaksanakan serangkaian kegiatan Musyawarah Daerah (Musda) yang ke-3 Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR Riau (Aspekpir Riau), akhirnya terpilihlah pengurus periode 2014-2019.

Pengurus baru tersebut tetap digawangi oleh ketua yang lama yaitu Setiyono melalui musyawarah mufakat pada Kamis (27/2/2014) malam. Setelah malamnya terpilih pengurus baru, maka Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Drs Zulher MS, melantik hari Jumat (28/2/2014) di Hotel Pangeran Pekanbaru.

Dalam pengarahannya, Zulher menyatakan bahwa Aspekpir Riau ke depannya memiliki beban berat dalam hal pengembangan subsektor perkebunan.

Menurutnya, ada dua peran penting Aspekpir Riau yaitu mengawal proses Replanting yang harus dilaksanakan secepatnya dan juga mempererat kemitraan antara petani dan perusahaan inti. Kebun kelapa sawit petani anggota Aspekpir Riau itu pada umumnya telah mendekati umur 30 tahun dan sudah waktunya untuk diremajakan. Namun dilapangan terdapat kendala seperti ketidaksiapan ekonomi petani jika kebunnya ditebang, kendala di sertifikat kebun sebagai jaminan kepada pihak perbankan maupun terdapat permasalahan antara petani plasma dengan plasma.

''Untuk itu, kami harapkan peran pengurus baru Aspekpir Riau untuk menjembatani permasalahan yang ada tersebut,'' harap Zulher.

Ketua Aspekpir Riau terpilih, Setiyono, menyebutkan akan kembali mengkoordinasikan kepada seluruh KUD-KUD yang berada dibawah Aspekpir dalam hal Replanting.

''Kita akan membantu para petani dalam hal replanting. Kita juga mengharapkan Disbun Riau terus mendorong petani untuk melakukan peremajaan,'' terang Setiyono.

Dalam rangkaian Musda tersebut, Panitia juga mengadakan seminar Nasional dengan Tema ''Membangun Kemitraan yang Harmonis dan Berkelanjutan''.

Hadir sebagai keynote speaker pada seminar tersebut yaitu Wakil Menteri Pertanian, Rusman Hariawan. Dalam arahannya, Wamentan mengatakan bahwa pengembangan perkebunan rakyat ke depannya sangat cocok dengan pola kemitraan. Apalagi pada pengembangan kelapa sawit jilid kedua nantinya berbasis kepada keberlanjutan (suistainable). Untuk menerapkan perkebunan yang berkelanjutan dibutuhkan dukungan pihak ketiga dalam bentuk kemitraan.

''Investasi di perkebunan kelapa sawit itu sangat besar. Dibutuhkan kebersamaan petani, asosiasi, pemerintah dan perusahaan inti ke depannya. Jika semua pihak dapat saling mendukung bukan tidak mungkin pada jilid kedua ini agroindustri kelapa sawit akan lebih kuat,'' ujar Rusman.

Dalam kesimpulan seminar tersebut diputuskan bahwa replanting harus segera dilakukan, untuk itu Aspekpir akan segera mengkoordinasikan dengan seluruh kelompok tani agar replanting segera dilaksanakan. (rls)