PEKANBARU, GORIAU.COM - Secara mengejutkan, ketika Perpustakaan Wilayah Soeman HS Provinsi Riau tengah menggelar acara Bazar Buku, Selasa (24/9/2013), pengunjung dihadapkan dengan kehadiran sejumlah reptil pemangsa seperti buaya dan ular phiton.

Namun binatang-binatang itu bukanlah datang secara liar, melainkan sengaja didatangkan oleh sekelompok remaja yang menamai kelompoknya "Reptile Pet Brother".

Komunitas ini memamerkan berbagai jenis hewan pemangsa serti ular dan buaya di halaman Perpustakaan Wilayah Soeman HS Provinsi Riau. "Selain memamerkan reptil pemangsa seperti ular dan buaya, juga ada reptil berbisa dan tidak berbisa," kata Ketua Komunitas Reptile Pet Brother Pekanbaru, Sandi (18).

Sandi juga merupakan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) Widyagaraha Pekanbaru. Ia menekuni hobi mengumpulkan berbagai jenis reptil tersebut sejak dua tahun lalu, sebelum akhirnya bersepakat untuk membentuk satu komunitas pecinta reptil.

Sandi mengatakan, komunitas itu baru dibentuknya pada 10 November 2012 dengan beranggotakan sebanyak 14 orang remaja putus sekolah dan ada juga yang masih berstatus pelajar. "Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk memberikan edukasi bagi teman-teman di sekolah yang ada di Pekanbaru untuk lebih mengenal reptil," katanya.

Sementara kegiatan memamerkan berbagai jenis hewan reptil yang dilakukan saat ini dengan membuka stand di halaman Perpustakaan Wilayah Soeman HS Provinsi Riau di Pekanbaru, menurut dia, adalah untuk lebih mencerahkan masyarakat tentang keberadaan hewan reptil di lingkungan.

"Selama ini banyak remaja seperti kami-kami ini tidak begitu mengerti dan memahami reptil. Padahal hewana-hewan ini juga masuk dalam jenis hewan penyeimbang kehidupan lingkungan," katanya.

Sandi bersama sejumlah anggota "Reptile Pet Brother" dalam pamerannya itu membawa berbagai jenis hewan reptil. Seperti berbagai jenis upar berbisa hingga tak berbisa, mulai dari ular Wengler Sumatera, Phiton, ular Dhipong dan lainnya.

Komunitas ini juga memberikan edukasi kepada sejumlah pengunjung tentang berbagai jenis hewan tersebut. "Kami merasa sekarang sudah mengerti, bahwa ternyata tidak semua ular itu memiliki bisa yang berbahaya," kata Beta (15), seorang pengunjung juga pelajar salah satu SMA di Pekanbaru.

Andre, seorang anggota komunitas pecinta reptil tersebut mengatakan, edukasi yang paling penting bukan soal bahaya atau tidaknya hewan reptil.

Namun, demikian Andre, paradigma masyarakat terhadap hewan reptil dan amphibi yang menjijikan dan menakutkan karena sudah tercipta pemikiran dari sejak kecil sehingga menjadi sebuah persepsi yang salah. "Dan kesalahan persepsi tersebut berlangsung hingga dewasa sehingga dibutuhkan edukasi yang baik seeprti sekarang yang kami lakukan ini," katanya.(fzr)