PEKANBARU, GORIAU.COM - Paham komunis, hingga kini dan untuk seterusnya akan selalu menjadi ancaman bagi idiologi Pancasila. Karena itu, penanaman nilai-nilai Pancasila, terutama terhadap generasi muda bangsa, harus dilakukan secara berkelanjutan.

Demikian disampaikan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Persada Bunda Drs H Iqbal Ali, MM, saat menjadi narasumber pada diskusi bertajuk ''Aktualisasi Idiologi Pancasila di Kalangan Masyarakat Pekanbaru'' yang digelar Forum Diskusi Publik di aula Ismail Suko, Gedung Perpustakaan dan Arsip Soeman HS, di Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, Selasa (27/10/2015).

Iqbal Ali mengingatkan, saat ini memang tak ada yang secara terbuka mengaku sebagai pendukung paham komunis, namun dalam kenyataannya, sangat banyak orang yang menghalakan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

''Tindakan menghalalkan segala cara merupakan salah satu ciri paham komunis,'' kata Iqbal Ali.

Menurut Iqbal, kemiskinan dan perpecahan ditengah masyarakat merupakan lahan subur bagi tumbuhnya ajaran komunis. ''Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengokohkan persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat merupakan bagian upaya penting menangkal berkembangnya paham komunis," ujar mantan Sekretaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Pekanbaru itu.

Di hadapan peserta diskusi yang sebagian besar merupakan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan jurnalis dari berbagai media massa di Pekanbaru itu, dosen senior yang rajin menulis artikel di berbagai media massa tersebut mengingatkan, semua pihak harus selalu mewaspadai berkembangnya kembali paham komunis di Indonesia. ''Kalau kita lengah, maka paham komunis bisa saja kembali menyusup ke berbagai lini kehidupan masyarakat dan negara, seperti yang pernah terjadi sebelumnya, yang berpuncak pada meletusnya Gerakan 30 September 1965,'' kata Iqbal, mengingatkan.

Iqbal Ali menambahkan, mahasiswa seharusnya berperan besar menjaga keberadaan idiologi Pancasila di Tanah Air dari serangan aliran-aliran yang tidak benar, termasuk komunisme. ''Saya ingatkan, generasi muda, termasuk di dalamnya mahasiswa, bukan hanya generasi penerus, tapi juga generasi pelurus. Jadi, kalau ada paham yang tidak benar berkembang, maka generasi muda harus ikut bertanggung jawab meluruskannya," sambung mantan Ketua DPD Muhammadiyah Kota Pekanbaru itu.

Iqbal Ali menilai, pengamalan nilai-nilai Pancasila belakangan ini semakin merosot, termasuk di kampus dan lembaga pemerintahan. "Salah satu penyebabnya adalah sistim rekrutmen yang tidak beres," kata Iqbal Ali dengan lantang.

Narasumber lainnya, Jayus, mengatakan Pancasila mengandung nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. ''Karena itu generasi muda harus memahami dan memegang teguh butir-butir Pancasila," kata pengurus Pemuda Muhammadiyah Riau tersebut.

Menurut dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau ini, sekolah dan kampus merupakan tempat strategis penanaman nilai-nilai Pancasila. "Porsi pelajaran dan mata kuliah Pancasila di sekolah dan kampus perlu diperbesar, sehingga siswa dan mahasiswa lebih memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tersebut," ujarnya.

Pemimpin Redaksi GoRiau.com Hasan Basril yang juga menjadi narasumber pada diskusi tersebut, menceritakan awal masuknya komunisme ke Indonesia hingga meletusnya Gerakan 30 September 1965 (G30S PKI). ''G30S PKI dan rangkaian pembantaian pasca peristiwa tersebut merupakan tragedi kemanusiaan terburuk dalam sejarah Indonesia,'' kata dosen jurnalistik di berbagai perguruan tinggi tersebut.

Hasan sepakat bahwa kemiskinan merupakan lahan tumbuh suburnya komunisme. ''Kalau kita tak ingin komunisme itu berkembang, maka lahan suburnya itu harus dilenyapkan. Ya, kemiskinan harus diberantas,'' ujarnya.

Istilah komunisme, menurut Hasan, sesungguhnya tidak menarik lagi ditawarkan sebagai idiologi. Namun sebagai paham, komunisme bisa terus eksis dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat.

''Pendukung ajaran komunis cenderung tidak beragama atau atheis. Di Indonesia, saat ini mungkin tak ada yang mau mengaku atheis, karena mereka memang menganut agama dan rajin mendatangi rumah ibadah. Namun sesungguhnya, banyak rakyat Indonesia ini termasuk kelompok atheis pragmatis. Maksudnya, ketika ada peluang melakukan korupsi atau kecurangan dan kejahatan lainnya, mereka lupa dengan Tuhan-nya,'' jelas Hasan.

Hasan mengingatkan, bukan hanya komunisme yang perlu diwaspadai, tapi juga paham-paham atau aliran-aliran lainnya yang berpotensi mengoyak keharmonisan berbangsa dan bernegara. ''Semua paham dan aliran yang berpotensi merusak kehidupan berbangsa dan bernegara perlu diwaspadai,'' tegasnya.

Koordinator Forum Diskusi Publik (FDP) Amril Jambak mengatakan, diskusi ini dimaksudkan memberikan pemahaman kepada generasi muda tentang bahaya laten komunis. Sekaligus berbagi pemikiran tentang cara menangkal berkembangnya paham komunis.

"Sebenarnya kami juga mengundang Dandim 0301/Pekanbaru Letkol M Ilyas sebagai narasumber. Namun Beliau berhalangan hadir," kata Amril seusai diskusi.***