BENGKALIS, GORIAU.COM - Warga Pulau Bengkalis mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium sejak Sabtu (2/8/2014) hingga Senin (4/8/2014). Tiga APMS di Kota Bengkalis tampak tutup, demikian juga pedagang eceran (Pos APMS) tidak lagi menjajakan bensin. Kalaupun ada, harganya cukup mahal dari harga normal.

''Dua hari belakangan ini sulit untuk mendapat minyak bensin. Kalaupun ada, harganya mencapai Rp9.000,'' ujar Iqbal, salah seorang warga Bengkalis, Senin (4/8/2014).

Dampak sulitnya mendapatkan premiun, aktivitas warga menjadi terganggu seperti hendak silaturrahmi ke rumah saudara atau keluarga sempena lebaran Idul Fitri.''Ini masih suasana lebaran, mau cari minyak juga susah. Bagaimana kita mau silturrahmi ke rumah saudara. Memang Pertamax ada, tapi harganya mencapai Rp16.000 perliter,'' keluh Iqbal.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bengkalis, H. Ismail membenarkan dalam dua hari terakhir berkurangnya ketersedian premium baik di APMS maupun Pos APMS karena kendala tranportasi dan belum semua APMS menebus DO ke Pertamina. Sementara  kuota dari Pertamina, tidak ada masalah tinggal menebus saja.

''Kuota BBM untuk Pulau Bengkalis di Pertamina sudah ada. Tapi karena masih suasana libur, sejumah APMS belum mengambil DO yang ada. Selain itu, kendala juga terjadi diakibatkan terjadinya peningkatan jumlah penumpang di penyeberangan Air Putih, Bengkalis dan Sei Selari, Bukibatu. Faktor ini juga mempengaruhi masuknya BBM ke Bengkalis,'' ujarnya.

Kadisperindag tidak sepakat kalau BBM disebut langka atau sulit didapat karena masih ada pertamax sebagai alternatif. Tapi, kalau sedikit berkurang karena belum dilakukan pengambilan kuota oleh pihak APMS, Kadisperindag membenarkan.

''BBM belum langka, karena Pertamax masih banyak di Bengkalis. Kalau premium memang mengalami pengurangan, dipastikan hari ini (kemarin) stok yang ada di Pertamina sudah sampai di setiap APMS yang ada di Bengkalis. Masyarakat tak perlu cemas dan khawatir premium akan langka, hari ini akan norma kembali,'' jamin Kadisprindag.(jfk)